Desa Merdeka – Ambon : Terkait Pemasaran   Pertamina sebagai Badan Usaha Milik Negara harus rela  melepaskan jatah  20 % hasil Produksi Blok Masela kepada  Badan Usaha Miliki Daerah Maluku untuk dijual kepada perusahan-perusahan  seperti PT. Pupuk Indonesia dengan alokasi 214 mmscfd, Elsoro Multi Prima sebanyak 160 mmscfd dan Kaltim Metanol Industri/Sojitz (KMI) sebesar 100 mmscfd.

Terkait pemasaran tersebut,  saat istirahat makan siang Sarasehan Blok Masela  11/43/2017, kontributor Desa Merdeka pertanyakan kepada Anggota DPR RI dari Komisi VII  asal Maluku, Mercy Barendz yang hadir  memberikan materi tentang  Blok Masela dalam sarasehan Blok Masela tersebut, yang juga direkam oleh berbagai Wartawan dari berbagai media lokal, maupun Elektronik dan media online ; Bahwa kenapa Pertamina diberikan perlakukan khusus untuk membeli 20 % hasil produksi Blok Masela ? Kenapa “Jatah“ tersebut tidak diberikan ke BUMD Maluku ? Toh Pangsa Pasarnya sudah jelas dan Pertamina hanya memainkan peran sebagai “Trader “ saja. Peran tersebut sangat dimungkinkan untuk dilakukan oleh Maluku. Pertamina rencananya akan menjual Gas Blok Masela ke 3 perusahan yaitu : PT.Pupuk Indonesia, Elsoro Multi Prima, dan Kaltim Industri.

Atas pertanyaan tersebut dijelaskan anggota DPR Komisi VII bahwa itu dari sisi produksinya yang opteker. Dalam arti : hasil kilangan dalam bentuk produk berupa LNG, atau Elpiji, dan lain-lain Pertamina sudah keluarkan steikmen, Pertamina bersedia menjadi opteker dari hasil kilang karena itu mandatory sifatnya. Itu ketentuan kita karena dari hasil kilang  yang dikelola perusahan, sebelum dikeluarkan pertamina sebagai Mandatory punya hak  yang disebut  Mandatory of Obligation dimana sebelum K3S  keluarkan hasil produk, pertamina harus menyelesaikan  kepentingan kebutuhan  dalam negeri.

Ketika kontributor Desa Merdeka mendesak apakah pertamina hanya bisa bertindak sebagai Trader ? dan apakah  BUMD Maluku bisa  sebagai Pembeli hasil produk untuk disalurkan keberbagai perusahan demi kepentingan Daerah.

Kembali Angota DPRRl Maluku dari Fraksi PDI Perjuangan itu menjelaskan,  Pertamina tidak bisa mengambil semua, dan BUMD Maluku sangat bisa karena masih dalam proses POD tahap kedua. Ditingkat Pengolahan daerah bisa mendapat manfaat  yaitu  :

  1. Daerah bisa ambil jatah transportasi dan distribusi penjualan
  2. Daerah bisa ambil tanggung jawab dari sisi marketing.
  3. Daerah bisa ambil dalam pengembangan Infra struktur, LNG mupun produk lainnya.

Dijelaskan bahwa Badan Usaha Milik Daerah  itu sangat bisa melakukannnya.

Selanjutnya mantan Ketua  DPRD Maluku  yang berada pada komisi VII DPRI  itu menjelaskan bahwa, Sementara sektor hilir banyak hal yang dapat dilakukan. Pertamina tidak bisa mengambil semua. Pertamina mengambil sesuai ketentuan Negera hanya 25 % sebagai Opteker, Namun dalam pernyataannya sebagai Opteker Pertamina bersedia mengambil 20 %. Berarti sisa 80 % hasil kilang bisa kemana saja, dalam bentuk Produk LNG dan lainnya yang dalam ketentuan  di gas  mempunyai  hak  dua pihak  dalam pengertian  ada pembagian 5,4 dan 4,6, karena itu masih grossplit, Jadi 5,4 itu  punya K3S sedangkan 4,6 itu untuk Pemerintah Daerah.Dengan catatan Pemerintah daerah mendapat : Royalti, Pajak termasuk Golden Fee, dan lainnya.

Sesudah itu dari Haknya  K3S dia juga bisa saja eksport  semua keluar tapi juga bisa dijual kedalam.

Ditingkat hilirisasi  sudah  banyak sekali  produk ,ada LNG,Elpiji dan lainnya.Sektor hilir mulai dari tahap regasifikasi, pengelolaan kemudian pemasaran dan distribusi, Hilir yang langsung dari minyak mentah yang dikelola. Sedangkan hilir lain Produk turunan  lain-lain  seperti Karbon : C2,C3,C4 bisa dibawa ke Petrokimia untuk dikelola  menjadi pupuk dan segala macam  lainnya.

Satu hal  kita bisa dapat asas manfaat dari mata rantai Industri  gas alam jadi gas cair,menjadi gas turunan elpiji, dan lainya, sesudah itu kita bisa dapat manfaat dari infra struktur Industri Petro Kimia, dimana Industri Petro kimia terdiri dari Industri Hulu, Antara, dan Hilir,Tergantung tingkat kadar C2,C3,C4 dimana ada aspal, lilin  dan macam-macam produk lainnya. (12/4/2017/*Chris)