Ambon-Desamerdeka.Pernyataan Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK)saat Mubes Mama di Ambon sebagaimana dimuat di berbagai media ternasuk Harian Kompas tanggal 26 November 2015 .Pernyataan tersebut ditanggapi serius oleh Julius R,Latumaerissa dosen Universitas DR.Mustopo Surabya. Menurut Dosen Perbankan Internasional ini pernyataan JK cukup menarik untuk dikaji. Menurutnya dalam pernyataan JK memiliki dua hal yang patut diberikan atensi penuh, yaitu pertama Perkuat SDM Maluku dan yang kedua Perkuat perdamaian di Maluku. Kedua aspek ini dinilai seperti bola salju yang ketika mencair maka hanyutlah Maluku dengan segala potensi yang ada. Pernyataan perkuat SDM menunjukan bahwa Maluku di mata Jakarta belum memiliki SDM yang potensial yang mampu untuk mengolah Sumber Daya alamnya (SDA) sendiri guna menggerakan roda ekonomi daerah. Ada beberapa pertanyaan yang dapat saya sampaikan disini (1). Apakah pernyataan ini di dasarkan pada data yang akurat atau tidak, (2). Apakah selama ini Jakarta sudah memberikan peluang secara proporsional kepada putra-putra Maluku dalam berbagai posisi penting dan strategis di Negeri ini. Jawabannya ada pada kita masing-masing.

Fakta menunjukan bahwa banyak SDM Maluku justru dimarjinalkan dalam berbagai posisi dengan berbagai alasan, baik politik etnis maupun politik aliran, sehingga mereka hanya pada level sub-ordinat dan bukan pada titik pusat ordinat. Sejak jaman perjuangan, sampai jaman reformasi saya masih punya keyakinan bahwa Maluku memiliki cukup banyak SDM yang professional, kredibel, akuntabel, dalam berbagai disiplin ilmu, tetapi dengan berbagai alasan yang tidak jelas mereka selalu ada dibawah garis permukaan. Kalau pernyataan tersebut hanya berdasarkan indicator pendidikan BPS semata, maka ini sangat bias menurut saya, karena secara faktual SDM Maluku banyak berkembang di luar Maluku bahkan juga ikut memajukan daerah lain di luar Maluku.

Pernyataan kedua Perkuat Perdamaian yang sudah ada, ini bisa saja sebuah himbauan tetapi juga bisa sebagai suatu isyarat bahwa Maluku masih rentang terhadap kekacauan dan bisa dijustifikasi sebagai daerah “berisiko tinggi” Maluku memiliki catatan sejarah yang panjang tentang kehidupan masyarakat yang toleran dan penuh kasih yang tulus tanpa memandang aspek-aspek keagamaan, suku, bahasa dan perbedaan lainnya. Maluku juga memiliki masa kelam dengan konflik horizontal 1999-2004, namun masa kelam itu tidak bisa dijadikan instrument untuk terus memposisikan Maluku sebagai daerah berisiko tinggi. Kalau ini yang terjadi maka saya melihat sebagai sebuah upaya pembunuhan karakter orang Maluku, sehingga Maluku terus akan di intervensi, padahal kalau kita mau jujur masa kelam dan pahit itu sesungguhnya bukan keinginan orang Maluku.

Kedua pernyataan di atas adalah pernyataan politik yang bermata dua, dalam arti bahwa Maluku memiliki potensi SDA yang sangat besar dan mampu menghidupi Negara ini dalam waktu 75-100 tahun kedepan. Aceh, Kalimantan dan Papua bukan lagi wilayah primadona bagi Jakarta. Akui atau tidak Maluku saat ini dan akan datang akan menjadi primadona bagi Jakarta dari aspek potensi SDA, dengan demikian Jakarta memiliki kepentingan yang sangat strategis atas wilayah dan kekayaan Maluku, dan untuk mengamankan kepentingan Jakarta maka yang akan dilakukan adalah bentuk-bentuk regulasi dan kebijakan yang dapat memposisikan Maluku pada posisi yang sulit. Dengan demikian logika umumnya adalah kalau SDM Maluku di mata Jakarta tidak siap atau belum mumpuni maka pasti ada pihak lain yang bukan SDM Maluku yang akan masuk ke Maluku, dan SDM Maluku hanya sebagai penonton dan diberi permen saja.

Kalau di mata Jakarta Maluku belum kuat dalam menjaga perdamaian, maka pasti Maluku akan diposisikan sebagai wilayah rawan konflik sehingga Jakarta harus turun tangan untuk menjaga dan memperkuat perdamaian. Pertanyaan kritis disini adalah apakah orang Maluku sudah tidak lagi mencintai perdamaian, sehingga sering muncul perkelahian dan kekacauan antar suku, antar daerah, kampong dan lain sebagainya, padahal dilihat dari faktor penyebabnya saja adalah hal-hal sepele, sederhana tapi bisa menjadi suatu bentrokan yang begitu dasyat dan berdampak besar dan ini yang membuat logika kita semua menjadi tumpul. Saya katakan demikian karena perkelahian bagi anak-anak Maluku adalah hal yang biasa dalam masyarakat sejak leluhur, dan bukan suatu hal yang hebat, namun mengapa bisa sampai terjadi hal-hal yang luar biasa..dan sangat hebat??
Pernyataan JK sebagaimana diulas di atas bagi saya adalah suatu “tamparan kerasa sekaligu tantangan bagi kita semua, baik masyarakat maupun Pemerintah Provinsi Maluku. Sebagai masyarakat Maluku kita harus jeli dan cerdas dalam melihat berbagai perubahan di negeri ini dan juga di Maluku dan mau berubah. Kita semua harus jujur mengakui bahwa banyak kelemahan-kelemahan yang ada pada kita yang menyebabkan kita dihadapkan dengan pernyataan di atas, salah satunya adalah kita sulit menghargai dan mengakui kelebihan orang lain yang dalam dialektika ambon adalah ilmu katang (kepiting), dan filosofi teteruga (Penyu) yang artinya sudah diambang kematian tapi masih tepuk dada (berbusung dada) harus segera ditinggalkan. Kita semua masih suka KUKU orang lain atau suka melihat sisi-sisi buruk orang lain dan tidak mau KEKU atau melihat sisi baik orang lain.

Tanpa disadari aspek ini melemahkan persatuan kita. Lemahnya persatuan berarti memberikan peluang atau jalan bagi musuh kita. Apakah ini jawaban atau penggenapan atas lagu para leluhur “hela-hela rotang E”. Insan Maluku harus benar-benar sadari bahwa sisi lemah kita ini adalah bunga-bunga yang indah bagi kupu-kupu yang mau menghisap madu di di Maluku. Persatuan dan persaudaraan kita dilumpuhkan dengan kelemahan yang ada pada kita, sehingga mereka bisa mengambil madu secara bebas di Maluku bahkan rakyat Maluku dimarjinalkan tanpa ada protes dari rakyat Maluku. Saya hanya menghimbau semua basudara orang Maluku untuk tetap menjaga persaudaraan kita, persatuan kita, jangan terjebak dalam perbedaan yang ada pada kita, karena perbedaan itu bukan kehendak kita, tetapi perbedaan yang ada diantara kita merupakan pernyataan Otoritas dari Allah, Tuhan pencipta alam semesta, sehingga tidak perlu diperdebatkan apalagi dipertentangkan.

Sebagai Pemerintah Provinsi Maluku, pernyataan ini seyogyanya menjadi suatu tantangan yang harus disikapi dan dijawab secara cepat. Pemerintah Provinsi Maluku harus lebih membuka diri, melalui upaya konsolidasi kekuatan SDM Maluku dari berbagai disiplin ilmu di seluruh Negeri ini bahkan di dunia internasional, dan meminta dukungan dan partisipasi konkrit bagi kemajuan Maluku melalui proses pembangunan yang berjalan sekarang dan akan datang. Pemerintah Provinsi Maluku harus jujur untuk merekomendasikan putra-putra terbaik Maluku dalam posisi tawar Maluku di tingkat pusat bukan rekomendasi atas prinsip suka atau tidak suka, prinsip kedekatan emosional atau juga pada prinsip politik kepentingan.

Selain itu Pemrov Maluku harus terbuka dan mampu mengakomodir kekuatan SDM Maluku dimana saja untuk mengatasi berbagai kelemahan perencanaan dan pelaksanaan pembangunan di Maluku. Saya katakan hal ini karena salah satu faktor keterbelakangan Maluku adalah kelemahan dalam perencanaan yang tidak bersifat komprehensif terintegrasi dan berbasis kinerja. Posisi geografis Maluku jangan dijadikan kambing hitam penyebab keterbelakangan dan kemiskinan di Maluku, tetapi rendahnya kesadaran untuk berubah, rendahnya etos kerja, rendahnya displin serta tingginya kebocoran anggaran daerah adalah sebagian kecil dari faktor-faktor yang sesungguhnya adalah menyumbang keterbelakangan dan kemiskinan di Maluku.
Berkaitan dengan aspek penguatan SDM, maka aspek pendidikan sangat menentukan. Unpatti sebagai salah satu perguruan Tinggi terkemuka di Maluku harus mengambil peluang dalam persoalan ini melalui rencana program yang mampu menjawab persoalan daerah dan bangsa ini secara keseluruhan. Saya percaya UNPATTI memiliki RIP (rencana induk pengembangan) yang matang dan startegis. Karena itu diharapkan UNPATTI mampu mempersiapkan SDM Maluku secara optimal dalam aspek penguasaan ilmu dan teknologi, dalam menjawab kebutuhan pembangunan daerah Maluku.

Untuk mencapai tujuan tersebut, Pemerintah Provinsi Maluku harus serius dalam mendukung upaya pengembangan Perguruan Tinggi ini bersama-sama perguruan tinggi lainnya di Maluku. Secara kelembagaan UNPATTI harus memiliki berbagai fasilitas, sarana dan prasarana penunjang proses pendidikan yang mutahir selain kurikulum yang terus disempurnakan sesuai perkembangan ilmu dan teknologi. Pengembangan Gedung perkuliahan yang reprrsentatif, harus ditunjang dengan ketersediaan laboratorium yang lengkap untuk mendukung berbagai kegiatan risert dari para dosen dan peneliti, perpustakaan yang lengkap sehingga memberikan ruang yang besar bagi dosen dan mahasiswa dalam mengakses perkembangan ilmu dan teknologi setiap saat, sehingga para dosen (Prof, Dr) yang dimiliki UNPATTI tidak hanya sebagai pengajar tetapi juga sebagai peneliti, yang mampu melahirkan hasil risert dan mampu mengeksekusi hasil riset tersebut untuk kepentingan daerah Maluku. by : Julius R.Latumaerissa (02/12/2015 *chris)