Desa Merdeka – Minahasa : Diketahui bahwa Minahasa adalah salah satu daerah Kabupaten yang terletak di Provinsi Sulawesi Utar, yang banyak memiliki situs cagar budaya berupa situs batu-batu adat peninggalan bersejarah leluhur tanah Minahasa yang diantaranya, yang paling dikenal umum sebagai objek wisata seperti Situs batu adat Watu Pinawetengan, yaitu sebuah batu besar yang terlihat seperti orang yang sedang bersujud dan berdoa.

Watu Pinawetengan terletak di Desa Pinabetengan Kecamatan Tompaso Barat Kabupaten Minahasa. Batu besar ini, menurut catatan sejarah adat dan istiadat serta budaya Minahasa; dimana pada jaman leluhur Minahasa; batu ini adalah merupakan salah satu diantara banyaknya batu adat tanah Minahasa ini yang dipercaya merupakan salah satu tempat cikal bakal bersatunya suku-suku di Minahasa.

Watu Pinawetengan pada sekitar tahun 1900 SM, merupakan tempat diadakan rapat adat besar para kepala adat suku di Minahasa, dimana para Kepala Suku Adat dari berbagai sub ethnis di Minahasa seperti : Tonsea, Tolour, Tontembuan, Tombulu, Tonsawang, Ponosakan, Pasan, Bantik dan Siau; berkumpul dan berunding untuk bermusyawarah dalam menetapkan pembagian wilayah didaerah ini. Selain tempat berunding, batu ini dijadikan juga sebagai tempat membicarakan berbagai masalah.

Diatas batu ini didapati ada banyak goresan-goresan yang membentuk beberapa motif atau relief yang membentuk gambar dan tanda, dimana hal ini dipercaya merupakan hasil perundingan para Kepala-kepala suku adat. Dari tempat inilah, para kepala suku ini menyatakan bersatu untuk bersama membela tanah ini sampai titik darah penghabisan dari gangguan pihak manapun. Bersatunya Kepala-kepala Suku Adat ini; maka tercetuslah nama Minahasa. Minahasa sendiri berasal dari dialeg masyarakat adat setempat yang merupakan gabungan dari kata “Mina” dan “Esa” atau “menjadi” dan “Satu”.

Menurut Arie Ratumbanua selaku Juru Kunci Watu Pinawetengan, menyatakan bahwa situs cagar budaya batu adat peninggalan sejarah leluhur tanah Minahasa Watu Pinawetengan; saat ini selain tempat rekreasi wisata adat; batu ini sering dijadikan tempat berkumpul, berziarah dan berdoa, “Watu Pinawetengan ini, sering didatangi oleh masyarakat dan organisasi adat termasuk wisatawan domestic dan asing, dengan berbagai motivasi’, tutur Juru Kunci ini.

Saat memperingati Hari Kartini, jurnalis Desa Merdeka wewancarai Siske J. Wentuk selaku Koordinator Umum Satuan Kerja “Wulan Minaesa” Perkumpulan Adat Manguni Emas Pinawetengan (MEP) Minaesa sebagai pemegang tampuk pengurus yang merupakan sayap pemberdayaan perempuan dalam salah satu organisasi adat Minahasa ini. Saat itu ditemui sedang berada di Situs budaya Minahasa ini, dimana dalam memperingati Hari Kartini, beliau mengajak para kartini muda Indonesia pada umumnya dan di tanah Minahasa pada khususnya; untuk bersatu.

“diera modern ini kita jangan malu atau ragu mencontoh budaya positif yang ditinggalkan para leluhur, terutama kau wanita. Mari kita melihat keteladan bahkan ketekunan Kartini dan Maria Walanda Maramis. Kita para penerus bangsa dalam menjalankan dan meletarikan budaya; janganlah terkotak-kotak dan jangan mau kalah dengan kaum pria, tetapi jangan pula salah menafsirkan emansipasi. Marilah bersatu dan tetap dalam koridor kebhinekaan yang Pancasilais, dengan tetap bekerja dan berdoa pada Tuhan sambil menjunjung tinggi supermasi hukum dan HAM.”, ucap siswi SMA Negeri 7 Manado ini yang saat itu didampingi Jacqueline Maramis sebagai pengurus.

Tak kalah dengan statemen Wentuk, Komandan Satuan Tugas Waraney Minaesa Perkumpulan Adat Manguni Emas Pinawetengan (MEP) Minaesa, menegaskan “saya sebagai generasi muda anak bangsa Indonesia dan selaku putera adat Minahasa, merasa terpanggil meneruskan cita-cita perjuangan dan sumpah suci para leluhur Minaesa, yaitu untuk bersatu untuk bersama membela tanah ini sampai titik darah penghabisan dari gangguan organisasi atau kelompok dan pihak manapun yang berupaya merongrong kebhinekaan dan keutuhan wilayah Indonesia.” Ujar Pascallino Mantiri.

Selain Watu Pinawetengan yang terletak di Desa Pinabetengan Kecamatan Tompaso Barat Kabupaten Minahasa, ada juga situs cagar budaya batu adat makam adat Waruga di Sawangan Airmadidi Kabupaten Minahasa Utara dan Watu Sumanti di Kelurahan Tikala Kecamatan Tikala Kota Manado. Konon katanya pada jaman dahulu, Watu Sumanti; menurut cerita masyarakat setempat; batu ini bisa bertumbuh dan menjadi besar, dimana batu adat ini digunakan sebagai tempat melakukan ritual adat, untuk menangkal adanya bahaya yang akan menimpa daerah ini.

Terpisah, Fuad Tangkudung,SH selaku Ketua DPC Perkumpulan Adat MEP Minaesa Kabupaten Minahasa Utara, mengajak semua elemen kemasyarakatan dan semua pihak untuk ikut serta dalam membela Negara Kesatuan Republik Indonesia, “Budaya mempersatukan kita anak bangsa Indonesia, ingat kata DR. Sam Ratulangi; Sitou Timou Tumou Tou, dimana saling menjaga kenyamanan sesama dan menjaga kerukunan dan toleransi antar umat beragama itu sangat penting. Kita harus tetap eksist membantu program pemerintah pusat dan daerah dalam membangun negara demi kesejahteraan masyarakat”, tutur mantan Ketua Senat Mahasiswa Fakultas Hukum Unsrat Manado ini. (FHM/8102)