Ora Beach Desa sawai Seram Utara

Ambon –Desamerdeka. DASAR PEMIKRAN dari Penulis dengan judul : Pengembangan Destinasi Wisata di Maluku disebabkan Obyek dan daya tarik wisata (ODTW) yang dimiliki Provinsi Maluku cukup banyak dan bervariasi yang terdiri atas obyek wisata alam, wisata pantai, museum, peninggalan purbakala, pusat kesenian, pusat kerajinan. Obyek wisata sebanyak itu belum mencakup atraksi wisata, seperti yang berkembang di Maluku seperti di Wilayah Kota Ambon dan Maluku Tengah yaitu atraksi wisata Bambu Gila, Wisata Pukul Sapu, Wisata Tari Cakalele, Wisata Tari Sau Reka-reka, Tari Lenso, Wisata Pantai meliputi Pantai Natsepa, Pantai Liang, Pantai Namalatu, Pintu Kota, Pantai Waisisil, Pantai Kuako, Pantai Ora, Pulau Pombo, Pantai Hukurila, Pantai Naku, Wisata Sejarah seperti Benteng Duurstede, Benteng Kapahaha, Benteng Belgica di Banda, Benteng Amsterdam, Wisata Alam seperti Air Panas Tulehu, Wisata Morea (Belut) di Waai dan Larike, Wisata Religi seperti Gereja Tua di Hila, di Nusalaut. Untuk Wilayah Pulau Buru, seperti Wisata Air Terjun di Leksula, Untuk Wilayah Maluku Tenggara, wisata Pantai Ngurbloat, Kecamatan Kei Kecil Kabupaten Maluku Tenggara, Pantai Ngurtafur di Pulau Warbal Kabupaten Maluku Tenggara, Pantai Uhum dan Danau Tihu di Kabupaten Maluku Barat Daya, Pulau Marsegu Kabupaten Seram Bagian Barat.Seorang wisatawan mengadakan perjalanan wisata karena didorong oleh berbagai motif yang tercermin dalam berbagai macam jenis pariwisata. Bagi daerah sangat perlu mempelajari motif ini karena berhubungan dengan fasilitas yang perlu disiapkan dan program-program promosinya. Spillane (1987) membedakan jenis pariwisata, yaitu : (1) pariwisata untuk menikmati perjalanan (pleasure tourism). Bentuk pariwisata ini dilakukan oleh orang-orang yang meninggalkan tempat tinggalnya untuk berlibur, untuk mencari udara segar yang baru, untuk memenuhi kehendak ingin tahunya, untuk mengendorkan ketegangan sarafnya, untuk melihat sesuatu yang baru, untuk menikmati keindahan alam, untuk mengetahui hikayat rakyat setempat, untuk mendapatkan ketenangan dan kedamaian di daerah luar, untuk menikmati hiburan di kota-kota besar, atau untuk ikut serta dalam keramaian pusat-pusat pariwisata, (2) Pariwisata untuk rekreasi (recreation tourism). Jenis pariwisata ini dilakukan oleh orang-orang yang menghendaki pemanfaatan hari-hari liburnya untuk beristirahat, untuk memulihkan kembali kesegaran jasmani dan rohaninya, yang ingin menyegarkan keletihan dan kelelahannya. Biasanya mereka tinggal selama mungkin di tempat-tempat yang dianggapnya benar-benar menjamin. Tujuan-tujuan rekreasi tersebut (misalnya di tepi pantai, di pegunungan, di pusat-pusat peristirahatan atau pusat-pusat kesehatan) dengan tujuan menemukan kenikmatan yang diperlukan. Dengan kata lain mereka lebih menyukai Health Resort, (3) pariwisata untuk kebudayaan (cultural tourism), jenis ini ditandai adanya rangkaian motivasi, seperti keinginan belajar di pusat-pusat pengajaran dan riset, untuk mempelajari adat istiadat, kelembagaan, dan cara hidup rakyat negeri lain, untuk mengunjungi monumen bersejarah, peninggalan masa lalu atau sebaliknya
PERMASALAHAN DI MALUKU.
Dalam mengembangkan industri pariwisata di Maluku bukanlah hal yang mudah, karena pengembangan kepariwisataan memerlukan suatu proses dan tahapan perencanaan yang matang. Hal ini disebabkan banyak bidang pembangunan yang terkait di dalamnya sehingga memerlukan bentuk perencanaan lintas sektor sehingga model perencanaan pengembangan wisata di Maluku harus bersifat komprehensif dan teintegrasi. Beberapa persoaln pokok yang sering dihadapi adalah penataan kawasan wisata masih sering terlihat kurang mengikuti kaidah teknis penataan ruang, misalnya memanfaatkan kawasan yang mempunyai kemiringan lereng tidak layak untuk dikembangkan namun tetap dibangun menjadi obyek pariwisata, seperti pembangunan sarana akomodasi, yang dapat menimbulkan dapak negatif terhadap upaya pariwisata itu sendiri, misalnya pengendalian yang masih belum efektif terhadap pembangunan fasilitas pariwisata yang merambah ke kawasan lindung yang diduga menjadi salah satu penyebab terjadinya erosi dan banjir.Permasalahan lainnya yaitu pengembangan kegiatan pariwisata masih fokus hanya pada pengembangan aspek fisik saja, seperti hanya mengembangkan karena potensi alamnya seperti Pantai Natsepa, Pantai Liang, Pantai Namalatu, Pintu Kota dan lain-lain. Saat ini dalam pengembangan kegiatan pariwisata belum terlihat upaya menciptakan obyek pariwisata baru yang bersifat non-fisik, seperti dengan mengembangkan potensi kebudayaan yang dimiliki oleh Maluku apakah upacara adat yang dimiliki di berbagai kampung, upacara sasi, timba laor, lomba Arumbae, Lomba gerak jalan di Kota Ambon, atraksi pukul manayapu (sapu lidi), Upacara Hari Pattimura dan lain sebagainya sangat berpotensi untuk dikembangkan sebagai obyek dan atraksi wisata daerah Maluku. Sebenarnya masih banyak potensi-potensi pariwisata lainnya yang dapat dikembangkan yang terkait dengan aspek budaya dan kesenian daerah Maluku.Konflik antar sektor juga masih sering terjadi dalam mengembangkan kegiatan pariwisata, seperti misalnya konflik antar sektor pertanian dengan sektor pariwisata, dimana pengembangan kawasan wisata di lokasi-lokasi tertentu mempengaruhi penyediaan air baku untuk kawasan pertanian. Permasalahan-permasalahan dalam konteks lokal yang sering ditemui antara lain dalam pelaksanaan kegiatan pariwisata, masih banyak terjadi masyarakat yang berada di dalam kawasan wisata tersebut masih belum ikut memiliki, manfaat yang dihasilkan belum sepenuhnya dirasakan oleh masyarakat di sekitarnya hanya dirasakan oleh para investor saja. Keterbatasan dukungan sarana dan prasarana penunjang merupakan juga salah satu permasalahan yang perlu mendapat perhatian. Dimana dukungan sarana dan prasarana merupakan faktor penting untuk keberlanjutan penyelenggaraan kegiatan pariwisata, seperti penyediaan akses, akomodasi, angkutan wisata, dan sarana prasarana pendukung lainnya. Masih banyak kawasan wisata yang sangat berpotensi di berbagai daerah di Kabupaten/Kota di Maluku, tetapi masih belum didukung oleh sarana dan prasarana yang memadai. Selain itu sarana dan prasarana yang dibangun hanya untuk kepentingan lokal saja, belum dapat melayani kebutuhan penyelenggaraan pariwisata di luar lokasi. Seperti misalnya penyediaan angkutan wisata hanya tersedia di area kawasan wisata saja, tetapi sarana angkutan untuk mencapai kawasan tersebut dari akses luar belum tersedia. Permasalahan lain yang sering ditemui adalah bahwa banyak potensi yang terabaikan baik dari sector pertanian, perikanan, perkebunan, yang bisa dikembangkan menjadi suatu produk kreatif yang dapat juga mendukung pengembangan pariwisata Maluku secara terintegrasi. Berdasarkan permasalahan yang teridentifikasi di atas maka diperlukan satu kebijakan dan Strategi Penataan Ruang yang tepat yang dilakukan pemerintah Provinsi Maluku untuk Mendukung Pengembangan Pariwisata di Maluku. Dalam mendukung pengembangan pariwisata, kebijakan penataan ruang yang dibutuhkan antara lain (1). Pengembangan wilayah dengan pendekatan pengembangan ekosistem, yaitu penatan ruang dilakukan dengan pendekatan secara terpadu dan terkoordinasi, berkelanjutan dan berwawasan lingkungan, (2). Peningkatan keterkaitan fungsi pengembangan kegiatan pariwisata yang baik dengan sektor lainnya untuk memberikan nilai efisiensi yang tinggi dan percepatan pertumbuhan ekonomi wilayah, (3). Pengembangan pariwisata harus dikaitkan dengan pengembangan ekonomi nasional, wilayah dan lokal. Pada tingkat Provinsi sektor pariwisata harus berperan sebagai prime mover dan secara interaktif terkait dengan pengembangan sektor-sektor lainnya, (4). Pengembangan pariwisata harus diupayakan dapat melibatkan seluruh stakeholder. Dalam konteks ini peran masyarakat terlibat dimulai sektor hulu (memberikan kegiatan produksi yang ekstraktif) sampai dengan kegiatan hilir (kegiatan produksi jasa), (5). Pemanfaatan rencana pengembangan wilayah secara nasional yang dalam hal ini harus terkait dengan dengan Rencana Tata Ruang Wilayah Daerah (RTRWD). Di dalam RTRWD ini diberikan arahan-arahan fungsi lindung dan budidaya. Kawasan lindung dapat dioptimalkan juga sebagai kawasan yang memberikan dukungan bagi kegiatan pengembangan pariwisata (forets tourism) dan kawasan budi daya memberikan alokasi-alokasi ruang untuk pngembangan pariwisata, tertutama dengan kawasan-kawasan andalan dengan sektor unggulannya adalah pariwisata, dan (6). Pengembangan dukungan sarana-prasarana transportasi secara terpadu intermoda dan terkait dengan struktur pengembangan wilayah.
Sedangkan strategi penataan ruang dalam pengembangan kegiatan pariwisata di Maluku mencakup hal-hal antara lain (1). Pemanfaatan RTRW Provinsi/Kab/Kota untuk mendukung pengembangan pariwisata terutama dalam penyesuaian dengan arahan alokasi pemanfaatan ruang, (2). Peningkatan koordinasi lintas sektoral dalam pengembangan pariwisata untuk mewujudkan keserasian dan keterpaduan program-program sektor yang dapat meminimalkan konflik-konflik antar sektor yang terjadi, (3). Pengembangan jaringan transportasi nasional, wilayah, dan lokal untuk mendukung pengembangan pariwisata terutama terkait dengan arahan pengembangan jaringan transportasi darat, laut, dan udara, termasuk juga arahan pengembangan alokasi bandara dan pelabuhan, (4). Peningkatan peran serta masyarakat dalam pengembangan pariwisata dari proses perencanaan dan pelaksanaan pembangunan, (5). Peningkatan keterpaduan program dengan keterlibatan berbagai sektor dalam pengembangan pariwisata, (6). Penyusunan rencana tata ruang yang lebih detail untuk pengembangan pariwisata dengan mengacu kepada arahan RTRWN dan RTRW Provinsi untuk tingkat yang lebih makro, dan mengacu kepada arahan RTRW dan RDTR Kawasan di Kabupaten/Kota untuk tingkat yang lebih detail, (7). Pemanfaatan standar teknis sektoral dalam menyusun rencana detail/rinci pengembangan kawasan pariwisata.
PARIWISATA MALUKU DI MASA OTONOMI DAERAH (OTODA).
Maluku memiliki sumber daya alam (SDA) yang dapat dijadikan daya tarik wisata unggulan di berbagai daerah Kabupaten/Kota, sehingga jauh lebih baik dan memiliki peluang dan prosepk yang besar untuk dikembangkan. Namun demikian tidak secara otomatis kawasan wisata di Maluku dapat dikembangkan menjadi kawasan unggulan, karena adanya beberapa masalah mendasar, seperti kelemahan infrastruktur, sumber daya manusia (SDM), juga kemauan politik pemerintah daerah baik Provinsi, Kabupaten/Kota yang masih rendah dan sebagainya. Hal-hal inilah yang berimplikasi terhadap lambannya pengembangan pariwisata di berbagai daerah di Maluku dan ketidakseimbangan pembangunan di sektor pariwisata antara lain (1). Pembangunan pariwisata yang tidak merata, sehingga tingkat pertumbuhan ekonomi kawasan Maluku dari sektor pariwisata masih rendah, (2). Maluku belum memiliki pintu gerbang utama destinasi wisata, (3). Lemahnya perencanaan pariwisata di Maluku dan kurang termanfaatkannya potensi pariwisata yang ada secara optimal, (5). Rendahnya fasilitas penunjang pariwisata yang terbangun, dan (6). Terbatasnya sarana transportasi, termasuk hubungan jalur transportasi yang terbatas. Ketidakseimbangan pembangunan juga berdampak langsung pada ketidakseimbangan investasi yang ada. Investasi pariwisata di Maluku relatif sangat kecil dibandingkan dengan daerah lain, karena sarana penunjang bisnis pariwisata skala nasional dan internasional telah tersedia, seperti pelabuhan laut, pelabuhan udara dan lain sebagainya. Para investor lebih memilih kawasan-kawasan yang telah memiliki sarana penunjang, terutama sarana yang mampu menarik pasar untuk berkunjung. Oleh karena itu pemerintah daerah perlu melihat hal ini sebagai suatu persoalan serius yang harus ditangani dengan sungguh-sungguh sehingga mampu menarik minta investor. Selain pembangunan fasilitas yang masih rendah, lemahnya investasi pariwisata di daerah, juga akibat dari lemahnya kebijakan pemerintah daerah di bidang pariwisata. Tidak dapat dipungkiri pula rentannya keamanan di Maluku, juga memberikan dampak pada rendahnya investasi pariwisata di Maluku. Ketidakseimbangan pembangunan yang berdampak pada tidak meratanya pembangunan sektor pariwisata di Maluku, harus dibenahi melalui penciptaan program-program pemerintah daerah Maluku yang mendorong dan memfasilitasi terciptanya produk dan usaha pariwisata lebih besar di berbagai daerah dan kelompok masyarakat. Karena Maluku belum menjadi salah satu pintu gerbang tujuan wisata maka sebaiknya pemerintah daerah harus mampu mendorong dan mendukung program jangka panjang berupa pengembangan pintu gerbang utama dan daerah lain di Maluku sebagai pintu gerbang lainnya bagi pariwisata Maluku.Pada dasarnya terdapat banyak daerah di Maluku yang memiliki kekayaan alam dan budaya yangpotensial untuk dikembangkan dalam kerangka kepariwisataan serta memiliki kemampuan untuk menjadi salah satu destinasi pariwisata baik sakala nasional maupun internasional. Kekayaan alam berbasis bahari merupakan potensi yang tinggi untuk dikembangkan tanpa menghilangkan potensi yang ada di daratan seperti air panas dan lain-lain. Potensi kekayaan budaya juga patut diperhitungkan dalam mengembangkan suatu daerah sebagai destinasi utama. Keanekaragaman budaya dan kesenian telah dikenal masyarakat dunia, termasuk keterbukaan dan keramahan masyarakat, serta kekayaan kuliner dipercaya memberi andil besar bagi tumbuhnya minat wisatawaan untuk datang berkunjung ke suatu Maluku. Selain dari potensi alam dan budaya, keberadaan infrastruktur aksesibilitas udara dan laut yang memadai mampu menjadi pendukung pengembangan daerah sebagai destinasi wisata Indonesia. Sarana dan prasarana kepariwisataan juga perlu mengalami peningkatan kapasitas dan kualitas pelayanan yang memadai.Namun demikian pengembangan kepariwisataan di Maluku tetap dikembangkan dengan mengacu kepada paradigma baru. Pengalaman pembangunan di daerah lainnya seperti Papua, Bali dan DI Yogyakarta perlu menjadi pertimbangan. Perencanaan yang matang melalui penyiapan Rencana Induk Pengembangan Pariwisata daerah (RIPPD) di tingkat Provinsi maupun Kabupaten/Kota sudah harus dimulai untuk menemukenali wilayah yang akan dijadikan sebagai lokasi pengembangan kepariwisataan yang tetap ditujukan untuk meningkatkan peran serta dan kesejahteraan masyarakat seluas-luasnya. Penyiapan sumberdaya manusia (SDM) yang memiliki kompetensi tinggi di bidang pelayanan jasa kepariwisataan juga menjadi hal yang perlu dilakukan. Kemampuan masyarakat dalam berinteraksi dan bersosialisasi perlu dilengkapi pula dengan kemampuan teknis, operasional dan manajerial dalam penyediaan barang dan jasa kepariwisataan. Stigma bahwa pekerja di bidang pariwisata merupakan pelayan harus mulai diubah menjadi pekerja profesional. Kemampuan masyarakat dalam mengembangkan kompetensi mereka di bidang kepariwisataan dipercaya akan mampu meningkatkan kualitas pelayanan serta pengalaman berwisata bagi wisatawan domestic maupun mancanegara.Berdasarkan berbagai kondisi tersebut, pengembangan pariwisata di bebagai daerah di Maluku, khususnya di harus difokuskan pada pengembangan pariwisata berbasis bahari dengan dukungan budaya yang kaya. Fokus pembangunan kepariwisataan ini akan mampu memposisikan berbagai kawasan di Maluku sebagai destinasi utama pariwisata Indonesia yang berbeda dengan daerah lainnya seperti Papua, Bali dengan budaya dan alamnya (pantai) maupun DI Yogyakarta dengan budayanya. Fokus pembangunan kepariwisataan ini perlu dibicarakan dan menjadi komitmen seluruh stakeholders dalam pembangunan kepariwisataan di Maluku.Maluku memiliki nilai strategis baik dilihat dari segi ekonomi, sosial dan politik serta keamanan pengunjung. Isu strategis pertama dalam masa penerapan otonomi daerah di sektor pariwisata di Maluku adalah kemungkinan timbulnya persaingan antar daerah, persaingan pariwisata yang bukan mengarah pada peningkatan komplementaritas dan diversivikasi alternatif berwisata. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor seperti: (1). lemahnya pemahaman tentang pariwisata, (2). lemahnya kebijakan pariwisata daerah, (3). tidak adanya pedoman dari pemerintah daerah (Provinsi) yang mengakibatkan pengembangan pariwisata daerah di Maluku sejak masa otonomi lebih dilihat secara parsial, artinya banyak daerah Kabupaten/Kota di Maluku mengembangkan pariwisatanya tanpa melihat, menghubungkan dan bahkan menggabungkan dengan pengembangan daerah Kabupaten/Kota tetangganya maupun propinsi/kabupaten/kota terdekat. Bahkan cenderung meningkatkan persaingan antar wilayah, yang pada akhirnya akan berdampak buruk terhadap kualitas produk yang dihasilkan.Padahal pengembangan pariwisata seharusnya lintas Provinsi atau lintas Kabupaten/Kota, bahkan tidak tidak lagi mengenal batas karena kemajuan teknologi informasi. Isu kedua terkait dengan kondisi pengembangan pariwisata Maluku yang masih bertumpu pada daerah tujuan wisata utama tertentu saja seperti Kota Ambon di Pantai Natsepa, Pantai Liang, Pantai Namalatu dan Pintu Kota , walaupun daerah-daerah lain di Maluku juga memiliki keragaman potensi kepariwisataan seperti Maluku Tengah ada Pantai Ora, Pantai Kuako. Hal yang mengemuka dari pemusatan kegiatan pariwisata ini adalah dengan telah terlampauinya daya dukung pengembangan pariwisata di berbagai lokasi, sementara lokasi lainnya tidak berkembang sebagaimana mestinya. Selain itu kekhasan dan keunikan atraksi dan aktivitas wisata yang ditawarkan masih belum menjadi suatu daya tarik bagi kedatangan wisatawan domestic dan mancanegara, karena produk yang ditawarkan tidak dikemas dengan baik dan menarik seperti yang dilakukan oleh daerah-daerah pesaing seperti Bali, Lombok, Tanah Toraja, Raja Ampat, Candi Borobudur dan lain sebagainya. Salah satu kelemahan produk wisata Maluku, yang menyebabkan Maluku kalah bersaing dengan daerah-daerah lain adalah kurangnya diversifikasi produk dan kualitas pelayanan wisata Maluku. Para pelaku kepariwisataan Maluku kurang memberikan perhatian yang cukup untuk mengembangkan produk-produk baru yang lebih kompetitif dan sesuai dengan selera pasar. Isu lain yang berhubungan dengan situasi dan kondisi Maluku yang berbeda baik dari potensi wisata alam, ekonomi, adat budaya, mata pencaharian, kependudukan dan lain sebagainya yang menuntut pola pengembangan yang berbeda pula, baik dari segi cara atau metode, prioritas, maupun penyiapannya. Proses penentuan pola pengembangan ini membutuhkan peran aktif dari semua pihak, agar sifatnya integratif, komprehensif dan sinergis. Selain itu dapat dilihat dari banyaknya daerah tujuan wisata yang sangat potensial di Maluku apabila dilihat dari sisi daya tarik alam dan budaya yang dimilikinya. Namun sayangnya belum bisa dijual atau mampu bersaing dengan daerah-daerah tujuan wisata baik di kawasan regional, nasional maupun internasional. Hal tersebut semata-mata karena daya tarik yang tersedia belum dikemas secara profesional, rendahnya mutu pelayanan yang diberikan, interpretasi budaya atau alam yang belum memadai, atau karena belum dibangunnya citra (image) yang membuat wisatawan tertarik untuk datang mengunjungi dan lain sebagainya. Memperbanyak variasi produk baru berbasis sumber daya alam (SDA) atau kearifan lokal, dengan prinsip pelestarian lingkungan dan partisipasi masyarakat, merupakan strategi yang ditempuh untuk meningkatkan pemanfaatan keunikan daerah dan persaingan di tingkat regional dan nasional .Selain kualitas kemasan dan pelayanan, produk pariwisata berbasis alam atau kearifan lokal harus memberikan pengalaman lebih kepada wisatawan. Selanjutnya, pengemasan produk wisata dan pemasarannya, haruslah memanfaatkan teknologi terkini. Produk-produk wisata yang ditawarkan harus sudah berbasis teknologi informasi, sebagai upaya meningkatkan pelayanan dan sekaligus meningkatkan kemampuan menembus pasar internasional. Di luar seluruh permasalahan, tantangan dan hambatan yang dimiliki Maluku dalam pengembangan kepariwisataan, potensi yang dimiliki sebagai penunjang pembangunan kepariwisataan sangat tinggi. Kekayaan alam dengan keanekaragaman jenis atraksi wisata alam kelas dunia masih kita miliki. Atraksi wisata alam berbasis kekayaan alam tersebut meliputi daya tarik ekowisata, bahari, pulau-pulau kecil serta danau dan gunung tersebar di seluruh wilayah dan siap untuk dikembangkan. Kekayaan budaya yang tinggi dan beranekaragam juga menjadi potensi yang sangat tinggi untuk dilestarikan melalui pembangunan kepariwisataan. Pada dasarnya minat utama wisatawan datang ke suatu destinasi pariwisata lebih disebabkan karena daya tarik wisata budaya dengan kekayaan seperti adat istiadat, peninggalan sejarah dan purbakala, kesenian, monumen, upacara-upacara dan peristiwa budaya lainnya. Kemajemukan suku, adat budaya yang variatif menjadi potensi yang sangat besar dalam peningkatan kepariwisataan. Penulis : Julius R.Latumaerissa(07/05/2015Chris)