Desa Merdeka-Ambon : Maluku di bidang pendidikan sudah semakin terpuruk dan tidak bermartabat sehingga sangat memalukan bagi rakyat Maluku dimata daerah daerah lainnya di Indonesia. Teman teman saya di daerah lain melalui WA selalu mempertanyakan hal ini …kenapa Maluku begitu mundur dalam bidang pendidikan sekarang ini dibandingkan dengan waktu waktu lampau. Ada beberapa indikator yang berpengaruh antara lain; Manajemen dan tata kelola pemerintahan daerah terkait dengan masalah pendidikan sudah berada pada ititik nadir. Bila pendidikan dari suatu daerah sudah sangat terpuruk pada peringkat terakhir itu dapat diartikan seperti orang yang mati suri artinya sudah tidak berdaya samasekali.

Pendidikan merupakan aset jangka panjang dari suatu daerah dan merupakan jantung dalam menentukan mati hidup manusia di daerah tersebut. Selain itu juga Pendidikan merupakan pusat pengendalian sumber informasi dan sumber ilmu pengetahuan dan teknologi untuk membentuk sumber daya manusia bagi masa depan suatu daerah atau suatu bangsa. Maluku mengalami degradasi pendidikan dan kesuraman dibandingkan dengan provinsi lainnya.

Ini adalah sebuah warning keras bagi pemimpin daerah dalam hal ini gubernur Maluku dan Kepala Dinas Pendidikan agar mengevaluasi kembali sistem manajemen pendidikan dan penempatan tenaga pendidik dan kependidikan yang profesional sesuai kompetensinya masing- masing.  Selain itu pula kepemimpinan di bidang pendidikan butuh pemimpin profesional yang handal dan memiliki kompetensi yang mumpuni dan kredibel.Kepada kontributor desa merdeka hari ini Jumaat 4/5/2018 melalui komunikasi ponselnya, praktisi pendidikan “Dominggus Latuihamallo,M.Sc” menegaskan hal demikian .

Selanjutnya dikatakan bahwa ini adalah sebuah kekeliruan dari Gubernur Maluku Said Assagaf(SA) yang menempatkan seorang Kepala Dinas Pendidikan yang belum profesional karena belum memenuhi standart kompetensi dalam dunia Pendidikan. Seharusnyalah menempatkan orang yang profesional dalam bidangnya atau yang disebut
“The right man on the right place”

Jebolan Curtin University of Technology, Perth, Western Australia itu menekankan bahwa terjadi kesenjangan manajemen di Dinas Pendidikan Maluku dikarenakan kurang pahamnya iklim pendidikan dan lajunya perkembangan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi di era globalisasi.

Kalau saja pemerintah daerah Maluku dalam hal ini Gubernur Maluku itu sadar betul bahwa pendidikan itu sangat penting bagi masa depan generasi penerus bangsa di republik ini termasuk masa depan dari anak anak Maluku, maka sudah seharusnya gubernur mengangkat kepala dinas pendidikan provinsi Maluku yang berasal dari anak daerah Maluku yang memiliki latar belakang pendidikan profesional /guru yang paham benar tentang pendidikan serta kondisi daerah Maluku. Contoh konkrit di daerah istimewa jogyakarta gubernur DIY mengangkat kepala dinas pendidikan adalah seorang guru besar dari bidang pendidikan yang paham benar tentang pendidikan mulai dari A sampai Z sehingga dalam penentuan kebijakan dan mengelola manajemen pendidikan serta penetapan program peningkatan mutu secara profesional itu akan tepat sasaran. Hampir semua provinsi di Indonesia sekarang ini sudah paham betul akan hal ini sehingga penunjukan seorang kepala pendidikan adalah benar benar orang yang mengerti betul tentang pendidikan, bukan seperti di Maluku akhirnya kita menerima kondisi keterpurukan seperti ini.

Bagi Latuihamallo mantan guru matematika itu mengatakan Menjadi pemimpin di bidang pendidikan adalah menjadi pemimpin untuk “membangun manusia untuk menjadi manusia Indonesia seutuhnya” berbeda dengan menjadi pemimpin untuk membangun jembatan, membangun gedung2 bertingkat membangun sawah, menanam pohon, …dan lainnya. Itulah bedanya dengan pendidikan yaitu “membangun manusia menjadi manusia seutuhnya” . Hal ini yang tidak dipahami oleh seorang gubernur Maluku saat ini.
Secara keras diingatkan bahwa siapapun yang akan terpilih menjadi Gubernur Maluku di periode yang baru 2018 -2023 focus utamanya haruslah memperbaiki kondisi pendidikan yang sudah terpuruk dan berada pada peringkat ke 34 terakhir dari seluruh provinsi di Indonesia. Ini sangat memalukan dan menjadi tamparan keras bagi pemerintahan di provinsi maupun di kabupaten/kota untuk berbenah tata kelola pemerintahan yang bersih sesuai aturan -aturan yang berlaku di negara ini termasuk dunia pendidikan .

Namun bila kondisi pendidikan sudah sedemikian akan mempengaruhi semua aspek hidup dan masa depan generasi di Maluku. Katakan saja kepemimpinan mereka telah gagal membangun Maluku sehingga mereka dianggap tidak memiliki motivasi maupun inovasi serta tidak memiliki jiwa kepeloporan untuk bekerja mendorong rakyat Maluku kearah perbaikan .tegasnya alumni pasca sarjana Curtin University of Technology, Perth, Western Australia.