Desa Merdeka – Ambon : Hari itu, tepatnya 15 Mei 1817 , mata dunia dibuka karena diguncang dengan Arogansi kekuasaan bangsa Eropa diinterupsi dengan keras. Suaranya membahana sampai ke seluruh penjuru dunia. Ya, hari itu, bangsa Maluku dipimpin kapitan Pattimura laki-laki kabaressi ” Thomas Matulessy” mengangkat senjata dan menundukan Belanda di benteng Drustede yg berdiri kokoh & angkuh. Patimura, dengan kepemimpinan, keberanian, & kecerdasannya meluluhlantakan Belanda dengan segala keunggulan tekhnologi perangnya yang sampai kini menjadi besi tua.

Saat itu dengan Parang (golok) Salawaku (penangkis) Kapitan Pattimura sebagai laki-laki Kabaressi menembusi benteng yang kokoh dan membunuh semua prajurit Belanda termasuk komandan Van den Berg . Sebagian tentara Belanda digiring kegunung prikadel dan dicincang (dipotong-potong penggal-penggal ) akibat dendam terhadap kekejaman Belanda kepada rakyat. Belanda di halau dan bertekuk lutut karena digempur habis-habisan oleh rakyat yang dipimpin Kapitan Pattimura mantan sersan tentara Inggris itu.

Hebatnya persatuan rakyat yang diikat digunung Saniri merasa senasib melawan penjajah. Saat itu Maluku bangkit melawan penjajah ketika Jawa, Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, dan lainnya, masih tertidur dalam lumpur penjajahan. Artinya bangsa Maluku telah memiliki kesadaran yg tinggi keberanian, kecerdasan & kepemimpinan ketika suku bangsa lainya masa tertidur dalam lumpur penjajahan.

Saat itu Dentingan tipa dan kapitano Pattimura mengumumkan hasil musyawarah Saniri Besar digunung Saniri ( Umikuhuil) untuk angkat perang 15 Mei 1817 . Kapitano ( struktur adat sebagai Mentri pertahanan keamanan) dengan gelar Pattimura angkat parang Salawaku sebagai awal perjuangan dari timur membuka mata seluruh suku bangsa bahwa penjajahan itu tidak sesuai perikemanusiaan dan keadilan. Kini Saparua kota sejarah tempat Kapitan Pattimura dan rakyat mengukir sejarah pertumpahan darah penjajah hanya dengan parang salawaku, karena disetujui oleh raja kabasaran digunung Murkele pusat kekuasaan kerajaan yang sampai kini menjadi mitos yang tidak bisa dipecahkan.

Kota yang ditinggalkan menjadi kota sejarah perjuangan awal bangsa Indonesia , yang seyogianya harus menjadi perhatian pemerintah, tapi bisa dibilang sebagai kota yang tidak ternama.

Kini 200 an tahun berlalu, dan Maluku berada pada posisi yg paling terbelakang dari saudara saudara setanah air. Maluku kini identik dengan kemiskinan, keterkebelakangan, ketertinggalan, dan bahkan kebodohan.

Entah kemana perginya semua kualitas istimewa yg pernah menempatkan suku bangsa ini berada pada garis terdepan peradaban bangsa bangsa Nusantara.

Walaupun demikian, kami tidak khawatir, atau ragu, atau bahkan takut, bahwa Maluku akan sirna dilibas sejarah. Tidak, kami tidak gentar! Kami percĂ ya bahwa kwalitas kwalitas unggul yg ada dalam diri Thomas Matulessy, Philip Lattumahina, Said Perintah, dkk itu pun mengalir di dalam darah kami. Kami bukanlah keturunan bangsa pecundang. Kami adalah keturunan langsung dari datuk datuk hebat itu. Gen & DNA mereka tercetak dalam Gen & DNA kami. Gen & DNA kami adalah gen & DNA pejuang yang cerdas & berani. Jika hari ini kami berada pada kondisi terbelakang, termiskin & terbodoh, itu adalah lintasan sejarah yang harus kami lewati. Dan pasti akan kami lewati.

Maluku pernah berdiri di garis terdepan bangsa bangsa Nusantara. Gen & DNA datuk datuk hebat itu mengalir dan hidup dalam darah Maluku. Bangkitlah Patimura Patimura Maluku. Raihlah bintang di langit. Taklukanlah samudra raya dengan segala isinya. Guncangkanlah cengkih & pala agar semerbak wanginya mengharumkan seisi dunia. Kulitilah perut bumimu dan kalungkanlah emas & segala kekayaanmu pada leher Patimura Patimura Maluku.

Lihatlah, sang fajar telah merekah..

Selamat hari P A T I M U R A saudaraku!!!
Penulis : Nicholas Alberth Rahallus, aktivis dan kader Partai PDIP.