Desa Merdeka – Jogja : Keberadaan 32 pasar tradisional di Kota Jogja dinilai sebagai sebuah potensi besar sehingga pasar dapat diarahkan sebagai tujuan wisata.

“Pasar bisa dijadikan tempat tujuan wisata, apalagi pasar sudah memiliki slogan yang sangat bagus yaitu ‘pasare resik, atine becik, rejekine apik, sing tuku ora kecelik’ (pasarnya bersih, hatinya baik, rejekinya bagus, pembeli tidak kecewa),” kata Ketua Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia Kota Jogja, Syaherman di sela kirab Gebyar Promo Pasar Tradisional 2014, Kamis (3/10/2014).

Ia menyebut pedagang pasar sudah melakukan berbagai inovasi guna menarik pengunjung untuk datang ke pasar tradisional, salah satunya dengan menggelar kegiatan Gebyar Promo Pasar Tradisional setahun sekali.

“Hasilnya cukup bagus, ada peningkatan pengunjung dan otomatis ada kenaikan omzet untuk pedagang. Kenaikan omzet bisa mencapai sekitar 15 persen,” katanya.

Kirab pedagang sebagai puncak acara gebyar promo yang diikuti tidak kurang dari 2.000 pedagang, dimulai dari Pasar Beringharjo menuju Pasar Ngasem itu juga menjadi bagian dari upaya menjadikan pasar tradisional sebagai pasar wisata di Jogja. Syaherman mengatakan selain inovasi, peningkatan kenyamanan pasar tradisional juga perlu diperhatikan.

“Kami dari pedagang pun akan berupaya untuk terus menjaga kebersihan pasar dan meningkatkan pelayanan ke pengunjung,” katanya.

Sementara itu, Walikota Jogja Haryadi Suyuti menegaskan seluruh pasar tradisional di wilayah tersebut sudah siap jika dijadikan sebagai pasar tujuan wisata.Sebab selama ini pun, pengunjung yang datang ke pasar tradisional tidak hanya bertujuan untuk berbelanja kebutuhan pokok, tetapi ada juga yang bertujuan untuk berjalan-jalan. Pasar tradisional seperti Pasar Beringharjo, lanjut Haryadi, bahkan sudah menjadi ikon wisata belanja di Kota Jogja.

“Di kalangan wisatawan sudah muncul istilah, belum ke Jogja jika tidak menyempatkan diri berkunjung ke Beringharjo,” katanya.

Selain Beringharjo, lanjut Haryadi, masih ada berbagai pasar tradisional lain yang juga layak dijual untuk tujuan wisata seperti Pasar Satwa dan Tanaman Hias Yogyakarta dan Pasar Klithikan.

Selain itu, kata dia, pedagang antar pasar umumnya memiliki hubungan yang erat. Sebab, Kota Jogja memiliki kegiatan kirab pedagang dari seluruh pasar tradisional adalah ungkapan rasa syukur dan wujud kebersamaan seluruh pedagang.

“Oleh karenanya, kirab sengaja dilakukan dari pasar ke pasar. Pedagang bisa saling mengunjungi dan melihat bagaimana kondisi di pasar lain. Tahun depan pun, kirab dilakukan antarpasar bukan lagi menuju Balai Kota Yogyakarta seperti tahun lalu,” katanya.

Sumber : Harian Jogja