Desa Merdeka – Jakarta : Pengakuan Bu Ef, Relawan Bisik Sabtu pagi mendung (17/03 jam 08.00), saya tergesa melaju di jalan toll.
Saya absent tidak menyelesaikan tugas melatih Hokaido di Makobrimob, lalu menuju undangan Nobar bareng Tuna Netra Kemendikbud di Teater Bioskop XXI, Jakarta Selatan

Sepanjang perjalanan, keluhan saya di dalam hati berturut-turut mulai dari sempitnya waktu yang saya miliki, hingga cuaca yang tidak menentu.
Pagi cerah, sore mendung tebal, lalu hujan.. dan seterusnya.
Keluhan lalu merembet ke jalan yang memadat di saat hari libur , terlebih karena hujan turun.

Hati yang penuh keluh kesah itu tiba-tiba saja dibungkam rapat-rapat ketika saya memasuki Lobby Teatre XXI.
Kedatangan saya di sana disambut anak-anak peserta Tuna Netra, Pengacara HSW n beberapa panitia.
Oh My God..
mendadak tercekat lidah ini.
Tidak bisa berbicara dengan lancar!
Saya harus menjelaskn event langka dan gak masuk akal bagi manusia normal.

 

NONTON BARENG TUNA NETRA

Secara harafiah.. saya merasakan tiba-tiba dunia ikut gelap.
Sebelum masuk ke ruang teater, bersama-sama yang lainnya saya membimbing dan mnuntun 1 peserta anak tuna netra.

Saya membimbing anak cantik bernama Ananda Aulia berjalan masuk.

Yupz..Ananda Aulia berjalan pelan, memaksimalkan kepekaan ke ruangan, dan mempercayakan dirinya sepenuhnya kepada saya yang membimbing langkahnya.
Anak itu tidak hanya tidak bisa melihat, tapi juga cacat fisik. Kakinya tidak sempurna.
Tidak bisa berdiri tanpa ditopang dan dibantu.
Bagaimana tidak tercekat dan terharu hati ini.

Kesadaran saya serasa semakin ditampar!
Ya Allah..
Di keseharian, saya sering melihat satu.. sepasang.. atau sekelompok orang tuna netra yg berjalan di keramaian jalan.
Mereka berjalan¬† di antara kepadatan lalu lintas, berhadapan dengan egoisme para pengguna jalan, keriuhan manusia-manusia ” normal” yang mendominasi kehidupan di ruang publik..

Dlm kesempatan beberapa menit, saya mencoba ikut memejamkn mata.
Ya beberapa menit saja, tingkat kewaspadaan saya atas keselamatan diri saya( di dalam ruangan pula! ) terasa diprovokasi sedemikian rupa..!!
Pertanyaan pun muncul..

 

Bagaimana dengan mereka, para penyandang tuna netra???

Kesadaran inilah yang menampar saya.

Mnampar atas angkuh hati untuk bersyukur pada Illahi Rabb atas sempurnanya diri ini..

Menampar akan miskinnya hati berempati..

Menampar keserakahan diri dalam menjemput rizki..