Desa Merdeka – Ambon : Saya secara pribadi, memberikan apresiasi yang tinggi kepada semua kita yang PEDULI terhadap perkembangan dinamika Maluku sebagai Negeri para Raja. Begitu banyak kajian dengan ribuan sudut pandang yang berbeda dalam melihat PROBLEMATIKA Pembangunan di Maluku dengan semua faktor penyebab dan akibat yang menyertainya. Dan pada titik itu tidak ada salah sehingga semua sangat bermanfaat bagi Maluku ke depan.

Namun demikian saya ingin katakan kepada kita semua, bahwa berbicara tentang Maluku, harus dipahami dalam SATU KESATUAN WILAYAH GEOGRAFI, ADMINISTARTIF DAN JUGA WILAYAH ADAT, yang terbentang dari ujung Wetar – Maluku Barad Daya (MBD)sampai ke ujung Gorom  Seram Bagian Timur. (SBT). Itu semua adalah Maluku, dan masing-masing daerah memiliki NILAI STRATEGIS bagi perkembangan Maluku seutuhnya ke depan sebagai Negeri Impian, yang penuh dengan Kasih, Damai, dan Persaudaraan yang rukun serta Persatuan yang kuat berdasarkan akar sejarah, adat budaya Maluku dalam konteks kebangsaan saat ini.

Maluku jangan dipahami secara PARSIAL dari sudut pandang manapun, karena ketika Maluku dipahami seperti itu maka yang kita dapatkan adalah EGO KEDAERAHAN YANG KAKU dan ini sangat berdampak pada keutuhan Maluku ke depan. Tanpa kita sadari bahwa pemahaman pembangunan Maluku secara parsial dan mikro sektoral menggambarkan kedangkalan pemahaman kita terhadap nilai strategis pembangunan Maluku.

Jika saya mau jujur, maka patut kita catat, bahwa Maluku yang terdiri dari 11 Kabupaten/Kota dan 118 kecamatan serta 1569 desa adalah daerah yang memiliki nilai LQ dibawa 1 atau jika diformulasikan LQ Maluku < 1. hal ini menunjukan bahwa kemampuan setiap Kabupaten/Kota untuk menghidupi dirinya sendiri sangat susah/rendah, sehingga dari aspek ini tidak ada satu daerahpun yang lebih unggul dari daerah lain. Masing-masing daerah memiliki kelemahan namun juga memiliki keunggulan komparatif dan kompetitif (comparative and competitive adventage) yang berbeda. Rendahnya nilai LQ Maluku juga menggambarkan RENDAHNYA DAYA SAING DAERAH. Pertanyaan saya adalah APA YANG PATUT KITA BANGGAKAN..???. Jawabannya TIDAK ADA. Yang ada hanya kumpulan persoalan yang tidak kunjung selesai.

Karena itu saya mau mengajak kita semua untuk melihat Maluku dan berpikir  tentang Maluku, SEBAGAI SATU KESATUAN organik dan dalam bingkai pemikiran yang KOMPREHENSIF MAKRO SEKTORAL dan bukan PARSIAL MIKRO SEKTORAL. Kesimpulan saya sementara, adalah MEMBANGUN MALUKU harus di dasarkan kepada VISI BESAR yang rasional, realistis, terukur dan mampu diimplementasikan dan berdampak multidimensional bagi Maluku secara lokal, regional dan Global.

Tanggalkan EGO KEDAERAHAN yang kaku dan EGO SEKTORAL yang sempit jika ingin berbicara tentang Maluku seutuhnya. Karena HAKEKAT PEMBANGUNAN MALUKU adalah memanusiakan manusia maluku berdasarkan nilai-nilai kemanusiaan dan nilai keadialan sosial. Dan jika dalam kondisi faktual, masih terjadi ketidak seimbangan atau dualisme dalam pembangunan di maluku, bagi saya hal itu menandakan adanya kelemahan  baik dari sisi perencanaan dan pelaksanaan pembangunan yang harus dibenahi secara profesional berkelanjutan dalam konteks RESTORASI, baik fisik, mental dan spiritual, sesuai kaidah-kaidah KREATIF – INNOVATIF. Penulis : Julius R.Latumaerissa  (16/3/2017/*Chris)