Desa Merdeka – Ambon : Tepatnya Jam 23.00 Wit tanggal 23 /4/2017 Ponsel Kontributor Desa Merdeka  berdering, dan suara yang sudah dikenal adalah aktivis anti korupsi Fredy Ulemlem, memberikan informasi bahwa dia dan teman-temannya aktivis ingin publikasikan  kronologis kekerasan Aparat Brimob terhadap masyarakat di Areal Pertambangan PT Adidaya Tangguh ( PT ADT). Dikatakan mereka  sementara berada di Jakarta melaporkan tindak kekerasan Aparat Brimob kepada Mabes Polri. Untuk itu Kontributor Desa Merdeka meminta agar Kronologis itu dikirim dalam bentuk tulisan, yang isinya :

Tanggal  15 Januari 2017: pada jam 09:00 WIT, lahan perkebunan milik saudara Bido di gusur secara paksa oleh perusahan. Saudara Bido dan istrinyapun pergi ke lokasi untuk menuntut keadilan dan saat itu pihak kepolisian (Brimob) atas Nama Djuba mengusir dan mendorong serta membentak istri pak Bido pemilik kebun maupun teman pak Bido, kata anggota Brimob Djuba bahwa jika ini hak kalian sampaikan langsung ke Bupati, kalau disini itu abal-abal tuntutan kalian.

Tanggal 20 Januari 2017: pada jam 11:00 WIT, Aparat Kepolisian yang di tugaskan di perusahan,telah menahan masyarakat yang minta bertemu dengan persuhan melalui aksi yang di lakukan saat itu, akhirnya masyarakat berusaha terobos masuk ke areal pertambangan,ada salah satu warga dari Desa Todoli yakni Paul di tendang serta di seret motornya dan saund sistem yang di gunakan masyarakat di hancurkan oleh anggota Brimob yakni: Djuba.

Tanggal 21 januari 2017 pada jam 10:00 WIT, di luar aksi demo, warga Todoli menahan mobil milik perusahan kemudian di bawah ke Desa Todoli. Penahanan mobil tersebut adalah bentuk dari protes warga atas tindakan perusahan yang telah melanggar kesepakatan yang sudah di buat oleh perusahan dengan masyarakat yakni melalui surat pernyataan tertanggal 27 januari 2017 isi dari surat tersebut adalah menghentikan seluruh aktifitas perusahan.

Pada saat masa menahan mobil milik perusahan tersebut, ada salah satu anak kampung dari Desa Todoli yaitu Harulia Hasri di minta oleh anggota polsek Bobong (Suhardin L )untuk menghalangi masa, namun pemintaan itu di tolak oleh Harulia Hasri dengan alasan ini masa dan saya tidak bisa menghalangi mereka karena mereka dalam keadaan emosi, bisa jadi ketika saya menghalangi mereka malah saya nanti di serang balik, anggotal polsek Bobong itu marah dan akhirnya menodong Harulia Hasri dengan pistolnya, mobil tersebut milik perusahan sudah bakar oleh warga Todoli.

Tanggal 23 januari 2017: Pada jam 09:00 WIT Kapolres kepulauan sula DEDEN SUPRIYATNA mendatangi warga di Desa Todoli untuk bernegosiasi dengan mereka mengenai rencana perusahan memasukan logistik dari kab. Luwuk Banggai ke Port Tolong tempat dimana biasanya dilakukan aktifitas perusahan, aktifitas perusahan telah di hentikan sementara waktu karena sebelumnya warga melakukan sasi adat sebagai bentuk dari aksi palang adat dan ini bukan saja di lakukan oleh warga Todoli tetapi warga lingkar tambang di Taliabu.

Tanggal 01 Pebruari 2017: pada jam 11:00 WIT aparat kepolisian memanggil beberapa orang warga dari Desa Tolong, untuk di mintai keterangan terkait dengan kasus peledakan salah satu tengki milik Perusahan PT.ADIDAYA TANGGUH, pada saat beberapa warga yang di panggil tersebut dimintai keterangan, mereka di intimidasi dan di paksa oleh aparat kepolisian untuk menandatangani surat pernyataan yang sudah di buat oleh aparat kepolisian bahwa mereka adalah pelaku peledakan tengki milik perusahan PT ADIDAYA TANGGUH, padahal mereka bukan pelakunya. Peristiwa meledaknya tengki milik perusahan PT ADIDAYA TANGGUH di luar aksi dan tidak di ketahui masyarakat lingkar tambang.

Mereka yang di panggil ada 9 orang warga dari Desa Tolong yakni: Ronal Sarkol, Ian Dany, Lukman Rada, Yopy Luky, Ary Soamole, Yustus Lasot, Simon Yosep, Sahadin Kulungan, Muhammad Nur.

Tanggal 02 Pebruari 2017: pada jam 15:00 WIT anggota polsek Bobong yakni Abu Zubair Latupono bersaama anggota polsek yang lain mendatangi saudara Iksan Mayau warga Desa Todoli untuk menanyakan keberadaan salah satu warga atas n 09 Februari 2017 : pada jam 12:30 WIT masyarakat lingkar tambang kembali melakukan aksi damai di lokasi Port Tolong, aksi tersebut berjalan dengan damai walaupun kondisi saat itu hujan,namun kapolres perintahkan anak buahnya membubarkan masa dengan alasan yang tidak mendasar, senjata aparatpun mulai berbunyi,a da warga yang di pukul oleh aparat dengan sejata merek kendaraan milik warga berupa motor di hancurkan oleh aparat Brimob, warga yang lainnya di tangkap disiksa dan dianiaya seperti binatang.

Tanggal 09 Pebruari 2017 pada jam 12 30 WIT masyarakat lingkar tambang kembali melakukan aksi damai yakni bela adat dan tutup tambang di lokasi perusahan, aksi yang lakukan berjalan cukup baik walaupun kondisi saat itu hujan tetapi semangat masyarakat berapi api, tidak lama kemudian kapolres memerintahkan anak buahnya membubarkan aksi damai itu cara kekerasan yang luar biasa, mereka memukul warga hingga luka luka dan kendaraan milik warga di hancurkan, warga akhirnya balik ke perkampungan, dan aparat terus mengejar masa hingga masuk ikut warga di perkampungan, rumah warga di bongkar, warga di aniaya.

Dari Percakapan Ponsel dengan aktivis dijelaskan  bahwa, Karena tindakan aparat terlihat brutal akhirnya warga mengungsi ke hutan selama beberapa minggu untuk melindungi diri dari tindakan aparat yang brutal itu.

Dikatakan bahwa mereka sebagai Para pengagas pergerakan aksi , yakni Fredy Moses Ulemlem, Harulia Hasry, Faisal ical, Busry, Isral, menjadi target operasi aparat Brimob dari kampung kekampung di bagian utara wilayah kecamatan Lede Kab. Pulau Taliabu,Namun mereka tidak berhasil menangkap kami, kamipun akhirnya berhasil keluar dari Taliabu menuju Banggai dan kami berhasil terbang ke jakarta untuk melanjutkan kasus Taliabu ke KONTRAS, KATAM, DAN KPA. Ujarnya .  (24/4/2017/*Chris)