Desa Merdeka – Jakarta : Guru-guru di sekolah dan juga para pendidik di berbagai sektor boleh-boleh saja melakukan pelarangan merokok kepada anak-anak sekolah, tetapi caranya jangan malah anarkis. Jika ada pelarangan merokok dengan cara-cara anarkis, maka harus ditindak secara tegas.

Ketua Umum Komunitas Perokok Bijak Suryokoco menyampaikan, cara-cara anarkis yang kian massif yang dilakukan sejumlah pihak, termasuk oleh para guru, sangat tidak dibenarkan. Karena itu, sebaiknya pihak aparatur juga bertindak tegas terhadap orang dan atau lembaga yang mengedepankan cara-cara anarkis dalam melarang mengkonsumsi rokok.

“Kami dari Komunitas Perokok Bijak sangat mendukung agar anak-anak sekolah tidak merokok. Tetapi cara melarangnya janganlah anarkis. Justru, cara yang dilakukan oleh para guru atas provokasi sebuah Yayasan bernama Lentera Anak baru-baru ini adalah bentuk tindakan buruk muka cermin dibelah. Malah kami melihat, guru-guru itu yang gagal mendidik anak-anak untuk tidak merokok, karena rokok adalah produk untuk orang berusia 18 tahun ke atas. Oleh karena itu, tindakan anarkis dengan hanya menyalahkan industri rokok dan pendagang rokok, bahkan kemudian melakukan aksi pelepasan spanduk sangat tidak dibenarkan,” ungkap Suryokoco, di Jakarta, Selasa (28/02/2017).

Sebagai seorang pendidik , lanjut Suryokoco, guru merupakan panutan untuk ditiru dan diteladani oleh siswa, baik dari sikap, perilaku, budi pekerti, berakhlak mulia, tekun dan mau belajar.

Maka, kata dia, saat guru memberikan pembelajaran sikap main hakim sendiri dalam hal pelepasan spanduk iklan rokok, maka ini jelas sebuah pembelajaran dan pendidikan yang tidak tepat.

“Oleh karenanya, kami Komunitas Perokok Bijak menyampaikan, mengutuk para guru sekolah yang terlibat dalam kegiatan pelepasan spanduk iklan rokok, dan meminta PGRI sebagai induk organisasi memberikan teguran keras kepada para guru yang terlibat dengan kegiatan tersebut,” ujarnya.

Dia mengungkapkan, sebelumnya, kegiatan Yayasan Lentera Anak dengan Dinas Pendidikan di 5 Kota di Indonesia, yakni Kota Padang, Mataram, Bekasi, Tangerang Selatan dan Kabupaten Bogor dengan melibatkan anak-anak dan siswa sekolah untuk menurunkan iklan rokok di sekitar sekolah adalah bentuk pembelajaran yang tidak tepat. ( http://statusfan.com/mading/tolak-jadi-target-industri-rokok-8-sekolah-di-bekasi-dan-tangerang-selatan-kompak-turunkan-iklan-rokok-dari-lingkungan-sekolah-1a0a15eb/ ).

Kegiatan yang juga di dukung oleh dinas pendidikan dan para guru tersebut, lanjut Suryokoco, sangat  tidak mendidik. “Itu malah mengajarkan pola anarkis dan tidak taat hukum terhadap anak,” ujarnya.

Sekretaris Jenderal Komunitas Perokok Bijak Ario Sanjaya menyampaikan, pihaknya sangat mendukung gerakan larangan anak sekolah merokok, dengan memberikan sanksi yang tegas kepada siswa yang ketahuan merokok, baik di lingkungan sekolah maupun di luar sekolah, baik dalam jam pelajaran sekolah maupun di luar jam pelajaran sekolah. “Dengan cara-cara yang bijak, tidak melanggar hukum dan tidak anarkis,” ujar Ario.

Lebih lanjut, Komunitas Perokok Bijak juga mendukung larangan guru merokok di dalam kelas serta memberikan sanksi tegas kepada para guru yang merokok di dalam kelas.

“Kami juga mendukung penertiban spanduk dan reklame luar ruang yang melanggar ketentuan yang berlaku, dengan cara melaporkan kepada satpol PP sebagai petugas penegak perda,” ujarnya.

Selanjutnya, menurut Ario, pihaknya mengutuk Yayasan Lentera Anak yang melakukan tindakan tindakan perlindungan anak dengan cara yang tidak benar, mengajarkan anak-anak untuk tidak punya etika dan moral dan tidak taat aturan. “Melibatkan anak dalam aksi pelepasan spanduk adalah pembelajaran anarkis dan pembelajaran tidak percaya kepada hukum dan pemerintah,” ujarnya.

Ario juga menyayangkan sikap Yayasan Lentera Anak yang  telah melakukan penyesatan informasi yang dapat memancing kemarahan bagi para perokok. Tuduhan Industri rokok sengaja memasang iklan di dekat sekolah dan ilegal harus dibuktikan bukan sekedar dugaan semata.

“Mendukung PGRI dan Kemendikbud  untuk menegakkan disiplin dalam hal anak di bawah 18 tahun dilarang merokok. Mengutuk industri rokok yang tidak patuh pada aturan periklanan yang berlaku,” ujarnya.

Pihaknya juga mendorong industri rokok menyampaikan informasi rokok hanya untuk umur 18+  dan mendorong industri rokok melakukan edukasi kepada para penjual rokok untuk tidak menjual rokok kepada anak berusia di bawah 18 tahun.

“Kita harus bijak dan harus menghormati aturan yang telah berlaku antara lain tentang anak usia di bawah 18 tahun dilarang mengkonsumsi rokok,” pungkas Ario.

Sebagaimana diberitakan sejumlah media massa, seperti dikutip dari http://www.beritasatu.com/kesehatan/416397-5-perusahaan-rokok-sengaja-pasang-iklan-di-sekitar-sekolah.html, Ketua Yayasan Lentera Anak Lisda Sundari mengatakan terdapat lima perusahaan rokok raksasa yang sengaja menempatkan iklan di sekitar sekolah dengan tujuan memengaruhi anak-anak sekolah untuk merokok.

“Bukan suatu kebetulan bila iklan rokok banyak ditemui di sekitar sekolah. Tujuannya agar anak-anak melihat iklan rokok setiap hari saat pergi dan pulang sekolah,” kata Lisda. Lima perusahaan rokok raksasa yang menempatkan iklan rokok di sekitar sekolah itu adalah HM Sampoerna, PT Djarum, Gudang Garam, BAT, dan Nojorono.

Lisda mengatakan semakin sering anak melihat iklan rokok dan memiliki kesan bahwa rokok adalah sesuatu yang baik dan biasa, mereka akan semakin mudah terdorong untuk mencoba merokok. “Hasil studi Komnas Perlindungan Anak dan Uhamka pada 2007 menyatakan 46,3 persen anak mengaku terpengaruh merokok karena melihat iklan rokok dan 86,7 persen mengaku melihat rokok di media luar ruang,” tuturnya.

Lentera Anak bekerja sama dengan Dinas Pendidikan dan organisasi perlindungan anak di lima kota, yaitu Padang, Mataram, Bekasi, Tangerang Selatan dan Kabupaten Bogor, memberikan pendampingan terhadap 90 sekolah. Tujuan pendampingan tersebut adalah memberikan penguatan kepada sekolah untuk dapat menggandeng masyarakat sekitar dalam upaya melindungi anak-anak usia sekolah dari pengaruh iklan rokok. Informasi yang melibatkan anak-anak sekolah yang diduga melakukan tindakan melanggar hukum dalam kampanye anti rokok juga dapat diakses di http://statusfan.com/mading/tolak-jadi-target-industri-rokok-8-sekolah-di-bekasi-dan-tangerang-selatan-kompak-turunkan-iklan-rokok-dari-lingkungan-sekolah-1a0a15eb.

Menurut Lisda, salah satu hasil pendampingan itu adalah aksi para siswa dari sekolah binaan untuk menurunkan spanduk reklame rokok di warung-warung sekitar sekolah. Reklame-reklame itu juga disinyalir ilegal karena tidak ada cap dari dinas terkait yang menyatakan membayar pajak.

Pada Sabtu pagi, sekitar 300 pelajar dari 30 sekolah di Bekasi, Tangerang Selatan, dan Kabupaten Bogor, juga melakukan aksi di depan Istana Merdeka dengan membawa spanduk reklame rokok yang mereka turunkan dari warung-warung sekitar sekolah. Mereka melakukan aksi teatrikal “Upacara Inisiasi Pengikut Serigala Berbulu Domba” yang menggambarkan tipu daya industri rokok untuk mengajak anak-anak menjadi perokok pemula.

Sekolah dari Bekasi yang mengikuti aksi tersebut adalah SMP Negeri 1, SMP Negeri 4, SMP Negeri 6, SMP Negeri 7, SMP Negeri 17, SMP Negeri 23, SMP Marsudirini, SMA Negeri 16, SMA Negeri 4 dan SMA Marsudirini.

Sekolah dari Tangerang Selatan yang mengikuti aksi adalah SMP Negeri 2, SMP Negeri 10, SMP PGRI 1 Ciputat, SMP Informatika Ciputat, SMA Negeri 1, SMA Negeri 4, SMA Negeri 8, SMA Triguna Utama, SMK Triguna Utama dan SMK Negeri 1.

Sekolah dari Kabupaten Bogor yang mengikuti aksi adalah SMP Negeri 1 Cibinong, SMP Negeri 1 Bojonggede, SMP Negeri 2 Dramaga, SMP Negeri 2 Cibinong, SMP Al Basyariah, SMA Negeri 1 Cibinong, SMA Negeri 2 Cibinong, SMA Negeri 1 Dramaga, SMK Negeri 1 Cibinong dan SMK Al Basyariah. (red)