Desa Merdeka – Yogyakarta : Raut bahagia menghiasi wajah Retnaningtyas Susanti,33. Dirinya menjadi salah satu peserta wisuda pascasarjana periode II tahun ajaran 2018, Kamis (19/4/2018). Anak satpam UGM ini berhasil lulus menjadi doktor di bidang pariwisata. Keberhasilan Retnaningtyas Susanti meraih gelar doktor menjadi bukti bahwa kendala biaya tak menjadi hambatan untuk memperoleh pendidikan tinggi.

Teguh Tuparman,56, terlihat gagah mengenakan seragam Pusat Keamanan Keselamatan Kesehatan Kerja dan Lingkungan (PK4L) UGM berwarna biru lengkap dengan sepatu bot kebanggaannya. Didampingi Sri Retnani, istrinya, lelaki yang sudah bekerja di UGM selama 33 tahun ini tampak mantap melangkahkan kakinya menuju Gedung Grha Saba Pramana lokasi tempat anaknya diwisuda.

Kepada wartawan, Teguh mengisahkan suka duka dalam mengantarkan anaknya menjadi seorang doktor. Anak pertamanya ini lahir 33 ta hun lalu, bersamaan dengan tahun pertamanya bekerja di UGM. Setiap akhir pekan saat mendapat giliran jaga, Teguh mengajak Retnaningtyas bersepeda keliling UGM sambil mengontrol keamanan.

“Saya kan bekerja di tempat orang-orang pintar, maka saya juga ingin anak saya jadi orang pintar,” ungkap Teguh.

Sejak kecil anaknya juga bercita-cita sebagai dosen. Minat yang besar dari anaknya itu juga diimbangi dengan kemauan orang tua. Teguh dan Retnani pun sudah terbiasa gali lubang tutup lubang, berutang sana-sini untuk membiayai kuliah anak-anak nya. Gaji sebagai petugas keamanan di UGM tentu saja tak cukup untuk membiayai semua anaknya. Selain Retnaningtyas, Teguh memiliki tiga anak lagi yang juga kuliah.

“Gaji saya saat ini Rp3,5 juta, tetapi hanya menerima Rp1,5 juta karena banyak potongan (untuk bayar utang),” ungkapnya.

Sepanjang melayani pertanyaan wartawan, wajah Teguh dan Retnani terlihat semringah. Berkali-kali keduanya menyatakan kebahagiaannya atas prestasi yang diperoleh anaknya ini. Retnani mengaku tidak menyangka anaknya mampu mengangkat derajat keluarga. Dirinya mengaku sangat bersyukur atas karunia ini.

“Saya hanya lulusan SMP, bapaknya juga hanya sampai SMA. Sangat senang sekali anak saya memiliki pendidikan tinggi dan sekarang telah menjadi dosen. Tadi malam bahkan saya tidak bisa tidur, senang banget anak saya menjadi doktor,” ungkapnya.

Retnaningtyas saat ini bekerja sebagai dosen di Universitas Andalas Padang. Profesi ini memang menjadi cita-citanya sejak kecil. Keinginan menjadi dosen ini makin kuat manakala dirinya masuk kuliah S-1 Jurusan Antropologi di Fakultas Ilmu Budaya UGM. Dorongan kuat itu mendapat sokongan maksimal dari orang tuanya.

“Saya bercita-cita menjadi dosen, untuk itu saya berusaha mendapatkan pendidikan tinggi untuk menggapai cita-cita tersebut,” ujarnya.

Usaha ini bukan tanpa halangan. Retnaningtyas mengaku satu-satunya kendala yang menjadi halangan untuk menempuh jenjang pendidikan adalah biaya. Sejak awal ayahnya memang sudah mengingatkannya bahwa masih ada adik-adiknya yang juga butuh biaya.
“Bapak mendukung, tapi juga mengingatkan saya bahwa beliau tidak bisa membantu banyak,” terangnya.

Kendala biaya itu tak membuat dirinya surut ke belakang. Sambil bekerja pada sebuah lembaga swadaya masyarakat, Retnaningtyas kemudian mengambil S-2 jurusan pariwisata. Jalan mencapai pendidikan yang lebih tinggi makin terbuka. Seusai lulus S-2 pada 2011, dirinya kemudian diterima menjadi dosen di Universitas Andalas. “Niat baik pasti mendapat jalan yang baik,” ujarnya.

Nasib baik itu ternyata berlanjut. Pada 2013, dirinya mendapat beasiswa untuk melanjutkan S-3 di bidang ilmu pariwisata. Retnaningtyas pun terus menularkan semangat tak putus asa itu kepada adik-adiknya. “Pemerintah dan banyak orang di sekitar kita peduli, terutama itu ditujukan untuk pendidikan. Jangan menyerah karena pasti ada jalan,” ujarnya memberi semangat.

Sumber : SindoNews