Desa Merdeka – Ambon. Front kapata Maluku raya bukan sekedar perwakilan masyarakat yang ada di wilayah kepulauan Maluku raya,Tetapi front kapata Maluku raya adalah Maluku raya itu sendiri yang saat ini sedang berjuang untuk melindungi diri, dari berbagai ancaman di Maluku raya.
Maluku Raya adalah negeri para raja-raja. Tanah yang diwariskan leluhur dengan pranata sosial budaya yang masih tertata. Maluku Raya adalah negeri yang tak beda-bedakan suku, agama ras dan latar belakan social lainnya.
Maluku Raya adalah laboratorium bagi kebhinekaan yang sesugguhya. Membangun Maluku Raya adalah mengubah kebudayaan sebagai sumber-sumber kesejatreaan masyarakat. Tarian cakalele, bambu gila, pukul sapu, sasi lompa, meti kei dan masih banyak lagi budaya yang menjadi ciri khas Maluku Raya. Oleh karena itu membangun Maluku Raya adalah menggiatkan kegiatan-kegiatan kebudayaan. Membuat para aktivitas sibuk dengan pagelaran seni yang mendatangkan penikmatan budaya. Laut dan budaya adalah masa depan Maluku Raya, karena dari laut kita berharap kesejahteraan yang sesungguhya, dari budaya kita menaruh harapan tentang hari esok yag lebih cerah artiya Maluku raya yang maju, Maluku raya yang modern, Maluku raya yang berkpribadian. Mari bergandengan tangan, lain bantu lain kita jaga Maluku raya yang lebih baik.
Demi tanah moyang-moyang yang lestari, demi ruang hidup yang azasi, demi hutan sagu, cengkih, pala, coklat , kelapa dan rempah-rempah lainnya, yang menghidupi beribu generasi; demi adat yang melindungi tanah dan air kami, front kapata Maluku raya menyatakan satu suara dengan perlawanan rakyat lingkar tambang Taliabu menentang segala bentuk perampasan ruang hidup dengan tuntutan atas krisis yang terjadi di pulau Taliabu yaitu :
1. Menolak segala bentuk kekerasan yang terjadi di kepulauan Maluku raya.
2. Menuntut penghapusan terhadap keberadaan konsesi tambang biji besi dan segala bentuk koorporasi ekstraktif lainnya.
3. Meminta Presiden Republik Indonesia, Menteri ESDM, Kepala Kepolisian Republik Indonesia, dan Gubernur mengambil langkah-langkah sesuai kewenangan masing-masing untuk melindungi ruang hidup yang ada di Taliabu khususnya dan umumnya Maluku raya dari ancaman krisis yang disebabkan oleh koorporasi ektraktif yang diduga bekerjasama dengan elit-elit kekuasaan.
Maluku dan Maluku Utara sebelum masuknya tambang.
Maluku dan Maluku utara adalah daerah yang berada di daerah kepulauan timur Indonesia masyarakatnya adalah petani dan nelayan, mereka hidup dari sagu, cengkih, pala, coklat, kelapa dan lain-lain. Sebelum masuknya tambang masyarakat Maluku dan Maluku utara hidup tentram dan damai di kampung mereka, hubungan sosial selalu terjaga dengan baik, toleransi antar umat beragama, serta budaya yang selalu terjaga dengan baik terus mewarnai hidup mereka. Hukum adat sangat berperan aktif dalam masyarakat itu sendiri apa yang merupakan warisan leluhur selalu di hormati di jaga dan di lestarikan dengan baik, nilai-nilai hukum adat menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.
Pada masa penjajahan belanda di Maluku ternyata bukan ingin merebut tanah atau wilayah Maluku tetapi karena cengkeh dan pala sebagai rempah-rempah termahal di dunia, ini adalah kisah sejarah di tanah maluku oleh sebab itu setelah kemerdekaan itu berhasil di rebut dari tangan belanda oleh para pejuang Maluku, Maluku di jaga dan di rawat kembali demi anak cucu dari generasi ke generasi hingga saat ini.
Setelah masuknya perusahaan tambang di Maluku raya.saat pemerintahan berganti dari SBY ke pemerintahan Jokowi, maluku dan maluku utara di tetapkan sebagai wilayah industri pertambangan melalui program investasi, program investasi di terapkan dengan tujuan adalah untuk menambah pendapatan bagi negara dan sekaligus mendorang pembangunan baik di pusat maupun daerah serta membuka lapangan kerja yang seluas-luasnya demi terciptanya kesejahteraan bagi rakyat.
Namun apa yang di inginkan bahkan di cita-citakan ternyata mimpi kosong, alias mimpi di siang bolong. Hadirnya perusahaan tambang di setiap daerah di indonesia ternyata menyisakan banyak persoalan di tengah masyarakat indonesia, khususya wilayah kepulauan yakni maluku dan maluku utara.
Kehadiran perusahaan di daerah membuat masyarakat kehilangan hak-haknya hingga kekerasan atau pelanggaran HAM yang pelakunya adalah TNI dan POLRI sebagai alat negara semua kejahatan yang di lakukan atas nama negara dengan alasan kepentingan umum. Tanggung jawab negara terhadap eksistensinya hilang dan di ragukan oleh rakyat, pengabaian terhadap hak-hak rakyat, kekuasaan di gunakan untuk menindas rakyat. Dengan demikian bagi rakyat, adanya tambang bukanlah suatu anugrah tetapi bencana bahkan malapetaka baik untuk generasi hari ini maupun generasi yang akan datang.

#Ingat Kepulauan Kami Maluku Raya..!!!
#Tolak Kekerasan di Taliabu..!!!
#Tolak Perampasan Ruang Hidup..!!!
#Tutup tambang..!!!
#Jaga Maluku Raya..!!!
…………………………Atas nama persaudaraan Maluku raya………………………………
Jakarta, 26 july 2017
Mengetahui
Front kapata Maluku raya
Ttd
Fredy Moses Ulemlem ,SH
Koordinator
Contact person : 081241357030