Desa Merdeka- Ambon : Kader GMNI Fredy Ulemlem dalam percakapan ponsel dengan kontributor desa merdeka Maluku hari ini sabtu 17/2/2018 mengatakan bahwa diperkirakan politik identitas dan politik uang akan dimainkan dan akan mewarnai di pilgub Maluku dan tidak bisa dihindari.

Siapapun tidak bisa memungkirinya, baik secara sadar maupun tidak sadar terjadi pada setiap kampanye dan permainan politik entah dalam keadaan terbuka maupun tertutup.

Saya sangat optimis dengan deklarasi melawan politik uang dan politisasi SARA tanggal 15/2/2018 kalau itu diresapin oleh paslon maupun rakyat Indonesia yang sudah puluhan tahun sudah diracuni oleh politik uang dari pemilu demi pemilu.

Semisal Paslon sebelum hari kampanye saja memberikan bantuan untuk pembangunan rumah ibadah .apakah itu bukan politik uang ? Pengalaman ini sudah berulang kali terjadi.

Namun dibalik itu saya pesimis karena kegiatan deklarasi dan penanda tanganannya diduga hanya lips service. Cetusnya.

Dalam percakapan ponselnya , Menurut Kandidat Magister Hukum Universitas Pattimura itu memberikan alasan 3 ( tiga) aktivitas dalam politik identitas dan politik uang serta SARA

Politik Identitas Etnis, Pertama adalah politik identitas berdasarkan etnis, misalnya saja adanya pemilihan kepada daerah yang dilakukan di berbagai wilayah di Indonesia.tentunya seringkali mementingkan kesamaan etnisnya apalagi hubungan kekerabatan untuk mendulang suara demi kemenangan dan kekuatan yang berasal dari kelompok tertentu.

Hal lain tidak bisa dihindari sistem budaya yang mengikat suku tertentu yang berada didalam pola in group dimana secara geografis dan demografinya banyak pulau yang dipisahkan dengan laut khusus di Maluku.

Politik Identitas Agama, Politik identitas agama, misalnya saja dalam terbentuknya partai – partai berbasis Agama yang didasari atas ketersaingan antar Partai dengan partai – Partai yang lazim di sebut partai Nasional akan bersaing dengan partai -partai yang sama-sama memiliki simbol agama dan basis – basis agama untuk mendulang kekuatan dan kemenangan. Untuk parpol- parpol berbasis agama masing -masing memiliki strategi yang kuat pakai issu berbagai hal dalam mendulang suara dikomunitas dan kelompok masing-masing.

Politik Identitas Gender, Jenis kelamin dan gender pada saat ini muncul sebagai salah satu politik identitas, misalnya adalah adanya kuota khusus yang dilakukan pemerintah untuk memberikan kesempatan kepada para wanita berkarir di dunia politik. Tentu saja kondisi ini menjadikan timbulnya politik identitas, dimana kaum perempuan yang selama ini merasa terpinggirkan pada akhirnya bisa bersatu untuk memberikan dukungan dan mengutus keterwakilan perempuan dalam dunia politik.

Contoh hari ini sabtu 17/2/2018 dibentuk gerakan perempuan dari paslon BAILEO yang diduga bertujuan membangun gerakan perempuan memenangkan calon tertentu. Timbul pertanyaan , apakah itu bagian dari politik keberagaman yang yang dipakai sebagai komunikasi politik dalam merebut kekuasaan ? Hal ini perlu dikaji dari landasan idiology dan falsafah bangsa !

Dengan demikian kita tentunya bisa melihat pada setiap momen politik di Maluku, politik identitas sering dimainkan dan sudah pasti terjadi dan siapapun tidak bisa mengelak.

Selanjutnya menurut aktivis anti korupsi yang sekaligus advokad muda ini yang mengatakan bahwa,
sesuai dengan pengamatannya dilapangan, diantara ke 3 paslon Gubernur dan wakil gubernur, SANTUN nomor urut 1(satu) BAILEO nomor urut 2 (dua) dan HEBAT nomor urut 3 (tiga) , paslon HEBAT sangat berpeluang memenangkan pilgub Maluku nantinya, karena keduanya lengkap dan terakomodir dalam politik identitas baik dari sisi etnis maupun agama.

Dari sisi Etnis Calon Gubernur dari HEBAT berasal dari Maluku Tenggara dan calon wakil Gubernur berasal dari pulau Seram.

Dari sisi Agama Calon Gubernur dari HEBAT beragama Kristen Protestan dan calon Wakil Gubernur beragama Islam. Keduanya anak tanah leluhur dari Maluku dan punya identitas matarumah yang pastinya menjadi momok kepada pasangan lainnya, karena HEBAT berada dimana -mana apalagi etnis Tenggara Raya dan etnis seram yang selama ini merasa ditinggalkan dan belum pernah menjadi orang nomor 1 dan 2 di Provinsi Maluku.
Itu analisis saya .

Maka sudah pasti HEBAT adalah pemenang pilgub Maluku, karena pemilih yang tidak terakomodir dalam politik identitas adalah pemilih sakit hati yang akan menentukan kepada siapa mereka menjatuhkan pilihan politik mereka.

Namun dengan tegas dikatakan semuanya terletak dari rakyat yang punya hak yang sudah cerdas menilai good will dan political will dari ketiga kandidat untuk membangun Maluku.