Desa Merdeka – Bali : Rencana reklamasi seluas 700 Hektar di Teluk Benoa oleh PT.TWBI mendapatkan penolakan dari para Desa Adat di Bali. Secara resmi, sudah ada 13 Desa Adat di Kabupaten Badung dan ada 6 Desa Adat di Kota Denpasar menyatakan menolak dengan tegas rencana reklamasi tersebut dan pada Minggu kemarin (28/2), mereka serentak menggelar aksi di perairan dan daratan di seputaran Teluk Benoa.

Dalam aksi demonstrasi yang dipimpin oleh Bendesa Adat ini dilakukan di 4 titik secara serentak pada pukul 14.00. Titik pertama berada di Jalan Pesanggaran, Denpasar yang diikuti sekitar 3000-an massa dari Desa Adat Sesetan, Desa Adat Pedungan, Desa Adat Kepaon, Jalak Sidakarya, Nusa Lembongan, Desa Adat Sanur dan sekitarnya. Sambil berorasi, massa bergerak dari pintu masuk Serangan memasuki Tol Bali Mandara. Di perempatan pesanggaran juga dipasang baliho penolakan reklamasi Teluk Benoa sebagai symbol penolakan reklamasi Teluk Benoa oleh Desa Adat.

“Ini bentuk konsisteni kami, jangan sekali-kali mengabaikan suara masyarakat adat. Kami meminta kepada Presiden Joko Widodo untuk membatalkan Perpres 51 tahun 2014 dan menolak rencana reklamasi teluk Benoa,” ujar I Made Suardana selaku pendiri Jalak Sidakarya setelah bergantian orasi dengan para bendesa adat.

Massa Aksi di Kelan

Di titik aksi yang kedua berada di Kelan, Kabupaten Badung. Sekitar 10.000an massa aksi ini berkumpul di Wantilan Pura Desa Adat Kelan. Massa aksi yang terdiri dari 10 Desa Adat di antaranya Desa Adat Kelan, Kedonganan, Tuban. Kuta, Legian, Seminyak, Kerobokan, Berawa, Canggu, dan Buduk ini berjalan kaki menuju gerbang Pintu Tol Bali Mandara sebelah barat.

Aksi di titik kedua ini dipimpin langsung oleh para Bendesa Adat dan kemudian secara teknis dibantu oleh Forum Rakyat Bali Tolak Reklamasi (ForBALI). Mengingat aksi yang dilakukan adalah serentak, maka massa aksi pun berjalan pada jam yang sama dan kemudian mengawali dengan memasang Baliho di pertigaan Jalan By Pass Ngurah Rai, atau tepatnya di pertigaan Kelan.

Selanjutnya massa aksi menuju arah bundaran bandara dan berada di pintu loket tol Bali Mandara. Setiba nya di depan tol, massa aksi yang berkumpul di titik kedua ini disambut oleh massa aksi yang berada di perairan, yakni massa aksi dari Desa Adat Tanjung Benoa. Bahkan aksi di titik dua ini sempat menutup akses masuk melewati Jalan Tol. “Ini adalah aksi simbolik, sehingga kami memilih aksi di pintu masuk Tol dan di perairan Teluk Benoa,” Ungkap Wayan “Gendo’ Suardana, selaku koordinator ForBALI yang diberi mandat oleh para Bendesa Adat.

Dalam keterangannya, menyebutkan tol merupakan akses masuk ke areal rencana reklamasi tersebut, sedangkan aksi di perairan oleh Desa Adat Tanjung Benoa merupakan simbol bahwa masyarakat dan Desa Adat ini tidak rela perairannya di reklamasi.

FOTO-AKSI-SI-PERAIRAN-TELUK-BENOA

Suasana perlawanan begitu terasa ketika ribuan massa ini mengangkat tangan kiri sebagai simbol perlawanan sambil berteriak tolak reklamasi Teluk Benoa dengan nada lantang. Silih berganti, para Bendesa Adat ini pun berorasi dari atas mobil komando yang berada di garis depan massa aksi.

“Kalau ada orang yang menyatakan Teluk Benoa bukan kawasan suci, maka orang tersebut tidak memahami Teluk Benoa. Desa Adat yang lebih paham, karena kami di Desa Adat yang menggelar ritual adat dan agama di Teluk Benoa,” ucap Wayan Swarsa selaku Bendesa Adat Kuta dalam orasinya.

Namun aksi kali ini disebutkan belum sepenuhnya full power yang di turunkan oleh pimpinan Desa Adat. Mereka dengan tegas mengatakan, jika rencana ini dipaksakan, maka Desa Adat akan bergerak secara total menurunkan kekuatan secara penuh untuk dikerahkan melawan proyek rencana proyek reklamasi di Teluk Benoa.