Borobudur Candi yang menakjubkan
Sebuah prasasti Cri Kahuluan yang berasal dari abad IX (824 Masehi) yang diteliti oleh Prof Dr J.G. Casparis, mengungkap pada masa Raja Samaratungga dimulai pembangunan candi yang bernama: Bhumisan-Bharabudhara, yang diduga berarti timbunan tanah, bukit atau tingkat-tingkat bangunan yang diidentikan dengan sebutan vihara kamulan Bhumisambharabudhara, yang mempunyai arti sebuah vihara nenek moyang dan Dinasti Syailendra di daerah perbukitan.

Tencatat Candi Borobudur adalah candi terbesar di dunia yang pernah dibangun untuk penghormatan terhadap sang Budha. Bangunan Candi Borobudur mencapai 14.000m persegi dengan ketinggian hingga 35,29m.

Dibutuhkan tak kurang dari 2 juta balok batu andesit atau setara dengan 50.000m persegi untuk membangun Candi Borobudur. Berat keseluruhan candi mencapai 3,5 juta ton. Setelah selesai dibangun selama kurang lebih seratus lima puluh tahun, Candi Borobudur merupakan pusat ziarah megah bagi penganut Buddha sampai sekitar tahun 930 M.

Candi Borobudur memiliki 3 bagian bangunan, yaitu kaki, badan dan atas. Bangunan Kaki disebut Kamadhatu, yang menceritakan tentang kesadaran yang dipenuhi dengan hawa nafsu dan sifat-sifat kebinatangan. Bangunan Badan yang disebut Ruphadatu, bermakna sebuah tingkatan kesadaran manusia yang masih terikat hawa nafsu, materi dan bentuk. Bangunan Atas disebut Aruphadatu yang tak lagi terikat hawa nafsu, materi dan bentuk digambarkan dalam bentuk stupa induk yang kosong, yang diartikan tingkatan ini hanya dapat dicapai dengan keinginan dan kekosongan. Dari hal tersebut maka Bhumisan-Bharabudhara dapat ditafsirkan sebagai “Bukit Peningkatan Kebajikan”

Pemugaran Candi Borobudur yang dilakukan oleh Pemerintah Indonesia sejak tahun 1973 – 1984 didukung berbagai negara sahabat. Dua puluh delapan negara duduk sebagai anggota dari Executive Committee for the International Campaign to Safeguard the Temple Borobudur.

Yang dimiliki Candi Borobudur dan Masyarakat Sekitar Candi

Borobudur adalah peninggalan budaya Budha yang masih dapat dilestarikan dan dikembangkan sebagai tempat peribadatan bagi umat budha di seluruh dunia..

Mahakarya Borobudur adalah sendratari yang menarikan kisah pembangunan Candi Borobudur yang dilakukan secara kolosal oleh 150 penari penari dari Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta dan seniman lokal Magelang.  Pagelaran berlangsung selama 1,5 jam dengan apik memvisualisasikan kisah Raja Smaratungga dan Gunadharma membangun Candi Borobudur. Gerakan tari merupakan interpretasi atas tiga ajaran hidup yang ada dalam relief mulai Kamadhatu, Rupadhatu, dan Arupadhatu.

Berbagai kesenian tradisonal seperti kuda lumping, kobro siswa, ndolalak dls masih tumbuh dan dilestarikan oleh masyarakat sekitar merupakan asset bagi Borobudur.

Seni pahat patung yang berada di sekitar kabupaten Magelang lebih tepatnya daerah muntilan. Berbagai bentuk patung dan pahatan telah diproduksi oleh masyarakat ”sekitar” borobudur dan beredar luas di Indonesia bahkan sampai manca negara.

Benda benda kerajinan tangan dan souvenir dengan identitas Borobudur adalah potensi kerajian rakyat yang menarik bagi para wisatawan

Yang dicari Wisatawan

Dalam sebuah perjalanan wisata, seorang wisatawan mengharapkan mendapat sesuatu yang tidak terlupakan atau pengalaman yang tidak terlupakan. Hal tersebu menyangkut  (1) Melihat sesuatu yang berkesan, (2) Melakukan sesuatu yang luar biasa, dan (3) Membeli sesuatu yang menarik.

Melihat hal menarik dapat berupa pemandangan yang indah, atraksi kesenian atau hiburan yang luar biasa atau hal lain yang indah dan penuh kenangan yang tidak dapat terlupakan. Melihat ini juga dapat dimaksudkan dalam bentuk suasana yang diluar dari kebiasaan yang didapat di tempat tinggal atau lingkungannya.

Melakukan sesuatu yang luar biasa antara lain terlibat dalam kegiatan atraksi atau kegiatan di lokasi obyek wisata. Sebagai misal memberi makan hewan hewan di kebun binatang, belajar membatik, membuat gerabah, memahat, membuat keris dll.

Membeli sesuatu yang menarik dimaksud bahwa di sebuah obyek wisata semestinya mereka bisa mendapatkan benda benda khas dari obyek wisata, sebagai contoh adalah kaos dagadu asli dari yogyakarta, wayang kulit, kerajinan tangan khas dll.

Candi Borobudur dalam kekinian

Meski masyarakat dunia mengakui Candi Borobudur merupakan salah satu keajaiban dunia, namun  Daya tarik Candi Borobudur ternyata masih kalah dengan Candi Angkorwat di Kamboja.

Untuk obyek wisata dunia di Indonesia, Candi Borobudur masih kalah menarik dibanding Bali. Bali pada dasarnya adalah budaya peninggalan Hindu yang masih dilestarikan, sementara Borobudur ”hanya” merupakan candi agung terbesar di dunia peninggalan budaya Buddha yang kehilangan nuansa keagamaan Buddha.

Penggunaan Candi Borobudur sebagai tempat peribadatan Umat Buddha hanya dapat dilakukan pada saat Waisak sehingga Candi Borobudur telah kehilangan nilai sakral Agama Buddha bagi penganutnya di dunia. Mereka tidak merasa perlu berkunjung ke Indonesia untuk beribadah, penganut Buddha tidak bisa melakukan puja bhakti sebagaimana mestinya.

Potensi Wisatawan Candi Borobudur

Enam dari sepuluh negara anggota ASEAN adalah negara yang penduduknya banyak beragama Buddha, yaitu Thailand, Laos, Vietnam, Kamboja, Myanmar, Singapura. Umat Buddha di negara-negara tersebut merupakan calon wisatawan mancanegara yang potensial ke Indonesia, terutama ke Candi Borobudur.

Umat Buddha di negara – negara Asia lainnya yaitu RRC, Korea, Taiwan, Jepang, Hong Kong, Sri Lanka, Nepal, dan lain lain serta umat Buddha di Amerika, Eropa, Australia dan seterusnya, merupakan potensi wisatawan ziarah bagi Candi Agung Borobudur.

Candi Borobudur membangun “keunikan baru”

Borobudur adalah obyek wisata sosial budaya yang menurut UU no 9 tahun 1990 tentang kepariwisataan disebutkan bahwa wisata sosial budaya adalah obyek wisata yang dapat dikembangkan dengan daya tarik museum, peninggalan sejarah, upacara adat, seni pertunjukan dan kerajinan.

Borobudur sebagai sebuah situs yang dibangun pada abad ke IX masehi mungkin akan sangat menarik bila dikelola dan dikembangkan konsep kembali ke abad IX. Lingkungan taman Candi Borobudur kembali dihidupkan selayakanya para pengunjung dibawa masuk dalam ”suasana” abad IX.

Kembali pada suasana tersebut maka seluruh aktifitas yang ada dalam ”lingkungan” taman Candi Borobudur ditata selayaknya kegiatan pada jamannya. Suasana yang bisa dikembangkan antara lain adanya atraksi kesenian pada abad tersebut seperti atraksi kuda lumping, atau kesenian lain yang diperkirakan tumbuh pada saat itu.

Perjalanan wisatawan pun dilingkupi suasana abad IX, sebagai misal perjalanan didampingi ”persewaan payung kertas” atau diikuti oleh ”pemegang payung” yang berpakaian selayaknya masyarakat pada abad IX. Perjalanan menggunakan kendaraan juga disiapkan dengan kendaraan pada abad IX, semisal menggunakan gajah, kuda, gerobak sapi, delman atau kereta kuda.

Pojok pojok kehidupan abad IX juga dikembangkan seperti pembuat keris / pandai besi dengan peralatan pada jamannya dan para empu atau pandai besi menggunakan pakaian pada saat itu pula. Pojok pemahat patung dan pembuat barang kerajianan juga ditampilkan dalam suasana abad IX. Warung kopi atau tempat istirahat juga dibuat dengan menu makanan khas yang disajikan dengan cara penyajian pada abad IX.

Sisi lain yang layak dikembangkan di Candi Borobudur adalah ”memposisikan” sebagai sebuah situs peninggalan budaya peninggalan Budha. Dengan menempatkan Borobudur sebagai tempat ibadah bagi pengikut Budha, maka sangat memungkinkan Candi Borobudur dikembangkan selayaknya  ka’bah bagi umat Islam dimana saat tertentu menjadi tempat berkumpulnya jutaan pemeluk Budha untuk datang (waisak) dan sepanjang masa menjadi tempat ibadah yang sakral bagi mereka. (selayaknya ibadah haji dan umroh untuk umat Islam).

Meski sekedar sebuah angan dan perlu dilakukan pembahasan lebih dalam, namun sungguh saya berharap ada sesuatu yang berbeda dari Borobudur dan menjadikannya sebuah obyek wisata yang sangat diingini oleh banyak orang dari seluruh penjuru dunia, bukan hanya Indonesia.

( Disarikan dari olah pikir dan obrolan bersama teman teman pemerhati pariwisata di Jakarta 19 nopember 2010. Pemikiran ini pernah saya lontarkan saat aktif di LSM Java Tourism pada tahun 2003. )