Desa Merdeka – Jakarta : Bermodal kreativitas, Ponggok, desa yang semula miskin itu kini mampu menjelma menjadi desa mandiri. Dengan mengembangkan potensi pemandian Umbul Ponggok, desa ini berhasil menambah isi kas desa, dari nol rupiah, menjadi miliaran rupiah setiap tahunnya.

Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Tirta Mandiri berhasil menjadi BUMDes terbaik tingkat nasional.

Setelah mengambil keputusan tepat, untuk mengelola sendiri kolam warisan zaman kolonial yang sekarang kondang dengan nama Umbul Ponggok ini.

Padahal di 2009, Tirta Mandiri sibuk menawarkan pengelolaan pemandian ini ke sejumlah pihak ke tiga. Upaya tersebut tak membuahkan hasil, meskipun ditawarkan dengan harga murah, 5 juta rupiah per tahun.

Namun rupanya, penolakan demi penolakan menjadi ritik balik kemajuan Umbul Ponggok. Berkat pemandian yang dulu hanya dilirik setahun sekali saat menjelang puasa Ramadan ini, Desa Ponggok, Kecamatan Polanharjo Kabupaten Klaten, Jawa Tengah yang dapat ditempuh dalam waktu satu jam dari Yogyakarta ini kini menjelma menjadi desa mandiri.

“Ini sesuai dengan misi Pak Jokowi, menjadi desa mandiri,” kata Junaedi Mulyono, Kepala Desa Ponggok di sela-sela Rembuk Desa Nasional, di Jakarta, Kamis (10/11).

Junaedi mengatakan, bahwa mengubah kas desa dari nol menjadi miliaran rupiah itu melalui sebuah proses kreativitas. BUMDes bermitra dengan sejumlah pihak melirik potensi kolam di Ponggok yang berada di dataran rendah antara Merapi dan Merbabu ini.

Umbul Ponggok terus mempercantik diri, sampai menjadi wahana selam dangkal yang di kemudian hari menjadi destinasi wisata favorit di Klaten, Jawa Tengah. “Dulu sumber-sumber air di desa kami tidak tergunakan dengan baik, hanya untuk mencuci dan irigasi,” ujarnya.

Ponggok merupakan sebuah kolam besar yang dirancang sedemikian rupa hingga menyerupai pemandangan dasar laut. Setiap pengunjung yang datang akan dengan mudah menemukam ikan, pasir putih, dan karang layaknya di kedalaman laut lepas, hanya dengan kedalaman 1,5-2,5 meter saja.

Berkat kemajuan Ponggok, desa yang terletak di kecamatan Polanharjo, Klaten, Jawa Tengah ini kebanjiran tamu yang ingin melakukan studi banding. Padahal dulunya, Ponggok merupakan sebuah desa miskin, dengan pemasukan rata-rata hanya 14 juta setiap tahunnya. “Dulu seringnkali kas desa kami kosong,” ujar Junaedi.

Namun sejak ada pamandian Umbul Ponggok, uang kas desa melimpah ruah. Tahun lalu saja, Ponggok berhasil membukukan uang kas sebesar 6,5 miliar rupiah.

Untuk 2016, Junaedi membidik target lebih tinggi, yakni 9 miliar rupiah di akhir tahun. “Sampai November awal ini kas kami sudah mencapai 8,2 miliar rupiah. Kami optimistis dapat mencapai 9 miliar sampai akhir Desember,” tegas Junaedi.

Animo studi banding dari luar desa yang tinggi membuat Ponggok berencana membuat pusat studi desa, untuk mempelajari tata kelola desa dan BUMDes si Ponggok. “Kami akan membuat paket-paket studi banding, misalnya paket tata kelola desa dan sebagainya. Jika ada yang mau magang, kami akan terima dengan senang hati,” tambah Junaedi. (koranjakarta)