Dumadi Tri Restiyanto : Orde lambang tumbang dengan isu kelangkaan beras yaitu dengan isu turunkan harga dan bubarkan kabinet 100 menteri. Dilanjutkan pemerintah ORDE BARU dengan mengeluarkan instruksi makan beras Tekad yang merupakan beras dari singkong dan Jagung karena kata tekad dari singkatan Telo karo djagung. Namun beras tekad ini tak bertahan lama karena harga tekad tersaingi dengan harga beras asli. Dan melalui revolusi hijau di gencarkan program swasembada beras dengan dipropagandakan pupuk kimia dengan dibuat pabrik kimia dengan kerjasama regional Asia Tenggara. Rakyat dipaksa pakai pupuk kimia hingga muncul kasus kasus penangkapan penolakan pupuk Urea tablet waktu itu. Akhirnya beras menjadi terjangkau.

Penjualan Pesawat Terbang CN 235 oleh IPTN menjadi isu nasional karena ditukar beras ketan. Apa yang salah ketika beras ketan diterima sebagai pembayaran pembelian beras karena sebuah negara Agraris kok impor ketan. Para politisi dan ekonom gembar gembor mengkritisinya. Pasca Orde Baru persoalan krisis moneter menjadikan depresiasi rupiah dan BBM menjadi bahan bakar ampuh tambangnya ORDE BARU.

Justru bukan beras dan justru setelah reformasi orang yang ketika orde baru makan telur dipotong tujuh menjadi makan telur sebutir bahkan 2 butir sekali makan. Makan daging seiris menjadi sepotong bahkan makan daging lebih banyak dari nasi. Orang yang punya televisi hitam putih bisa beli dan menonton televisi berwarna. Orang yang pada masa ORDE BARU melihat sepeda motor murah tapi rakyat gak bisa beli. Komputer dan handphone yang hanya menjadi impian rakyat kecil dan cerita di warung kopi tanpa pernah lihat barangnya sekarang mereka memiliki bahkan anak anak mereka sudah memakai sejak balita. Ada istilah “Enak Jaman ku to ” dijawab ” Enak endi ,apa apa murah ning ra iso tuku”.

Justru isu BBM dan kenaikan BBM lebih efektif dalam politik kekuasaan dibanding isu beras. Karena beras ada beberapa persoalan yang dihadapi importir dan pemburu rente karena sejauh mana mereka kuat melakukan dumping dan apakah dumping berdampak jangka panjang. Beras impor yang murah belum tentu bisa terdistribusi dengan baik dan persoalan perdagangan di tengah Perdagangan bebas harga bukanlah segalanya. Bahkan kualitas pun bukan segalanya. Karena adanya kekuatan ikatan gotong royong di tubuh rakyat dengan pendekatan distribusi, Jaringan dan budaya serta kekeluargaan dan gotong royong.