Dumadi Tri Restiyanto : Pernyataan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, Menjelaskan bahwa petani Indonesia Malas dibanding petani negara lain yang hanya melihat matahari 6 jam. Dan menanam hanya 6 bulan.

Menteri Pertanian Amran Sulaiman mengaku sudah melakukan pembenahan pada alokasi anggaran. Amran mengklaim, saat ini 85% anggaran Kementerian Pertanian (Kementan) dialokasikan bagi kepentingan petani.
Kata Amran, 4 tahun lalu hanya 35% anggatan Kementan yang dialokasikan untuk petani, sisanya 65% untuk perjalanan dinas, cat kantor, dan lain-lain.

“Di 2014, dari total anggaraan untuk produksi petani hanya 35%. Selebihnya itu biaya seminar, perbaikan kantor, perjalanan dinas. Kami cabut. Beli mobil, beli motor moratorium, cat kantor kami moratorium, biaya perjalanan dinas kami cabut. Hasilnya, dulunya 35% untuk petani, sekarang 85% untuk petani,”

Selain itu, Amran mengatakan bahwa dirinya telah menghapus sistem tender dalam pengadaan berbagai alat pertanian. Menurutnya sistem tender memakan waktu terlalu lama sehingga tidak efektif dan efisien.

“Dulu semua tender, pestisida tender, anggaran turun padahal sudah pertengahan musim hujan. Kami menghadap Presiden, ada regulasi yang harus dicabut. Kami sampaikan, tikus tidak pernah mengatakan tunggu dulu pemerintah lagi tender. Baru satu regulasi kami ubah, kami yakin bisa angkat produksi,” ujarnya.

Demi menggenjot swasembada pangan dan meningkatkan investasi, Amran juga mengaku sudah memangkas 241 regulasi. Dampaknya, ekspor kita meningkat, investasi meningkat,” ungkap Amran

Alasan malas ini paling tidak bisa menjadi rasional mengingat bahwa tingkat kesuburan lahan pertanian di Indonesia mengakibatkan keseriusan petani dalam meningkatkan hasil cukuplah berbeda dengan luar negeri.

Tapi di sisi lain juga harus dilihat pula sebenarnya bukan persoalan malas atau tidak malas tapi pertanian di Indonesia tidak mengikuti perkembangan Jaman . Sehingga pola pertanian di Indonesia kurang menarik karena teknologi yang digunakan cukup ketinggalan. Mengapa karena pertanian di Indonesia lebih mengutamakan padat karya. Persoalan yang mendasar bahwa ketika perkembangan teknologi pertanian diajarkan di lembaga pertanian di terapkan di lapangan sungguh jauh berbeda. Pendidikan dengan luas terbatas dengan berbagai peralatan modern dan padat modal sedangkan di lapangan lahan cukup luas dan padat karya. Sehingga tidak ada kesinambungan laboratorium pertanian di dunia pendidikan dengan kondisi masyarakat petani di Indonesia.

Pada era revolusi hijau dimana petani berpindah dari sistem panen ageman dan ditumbuk menjadi sistim penyabitan dan digiling permintaan mesin giling besar dan diterima masyarakat petani padi. Namun di sisi lain tenaga petani menjadi terbatas yang dulu dapat menggunakan tenaga anak anak dan orang tua atau lansia menjadi berbeda . Karena tenaga lansia dan anak anak menjadi tidak kuat memanggul dan memikul beban berat hasil panen. Namun dalam jangka pendek mengakibatkan swasembada pangan terutama padi. Namun hal ini tidak berdampak lama,malah berdampak pengangguran baru bagi mereka yang tidak memiliki kekuatan fisik. Bahkan pola ini masih berlaku sampai sekarang meski pendapatan petani meningkat. Namun hasil pendapatan tidak untuk pembeli alat produksi modern tapi malah untuk meningkatkan konsumsi sepeda motor dan mobil mewah serta alat telekomunikasi yang penggunaan banyak untuk kebutuhan konsumsi. Petani pun masih mempertahankan pola tradisional dengan padat karya dengan menghemat modal dengan lahan yang luas dan semakin menyempit sesuai pertumbuhan jaman. Sehingga pendapatan petani berkurang karena lahan berkurang tapi hasil tetap.

Kesiapan petani untuk menyiapkan modal dan teknologi pertanian menjadi tertinggal sedangkan lahan yang semakin sempit paling tidak harus tetap menghasilkan produk pertanian yang cukup. Pemerintah tidak mendorong pola peningkatan untuk mendorong pertanian menjadi lebih baik volume produksinya namun lebih menjadikan petani adalah obyek angka kemiskinan guna mencapai target pengentasan kemiskinan dengan jargon pemerataan pembangunan. Sehingga program bantuan petani dan pedesaan lebih memberikan ikan daripada kail seperti Bantuan langsung Tunai,bantuan Beras miskin dan segala bantuan naturalisasi yang memanjakan rakyat petani. Sehingga bagi sebagian yang berpikir produktifitas dan peningkatan teknologi justru tidak dimotovasi dan di stimulan bahkan justru petani semakin dipolakan dari kemiskinan Struktural menjadi kultural. Apalagi beban produksi petani kreatif dengan peningkatan harga BBM justru terbebani dengan konversi BBM yang berupa bantuan natura yang mendorong daya beli jangka pendek.

Sehingga program pemberdayaan petani sering mengalami kesulitan karena petani terbiasa disuapi daripada diberi motivasi kebanggaan meningkatkan kemakmuran karena hasil dan karya besar hasil pertanian