Desa Merdeka – BPH Tambunan : Dalam meniti, memacu hidup, dan kehidupan, jauhilah segala sikap dan perilaku buruk. Terutama, egoisme yang merupakan ibu kandung segala sikap dan perilaku buruk yang mengundang antipati banyak orang. Jika belum mampu berbuat baik, minimal jangan pernah melukai perasaan orang. Jalinlah korelasi atau interkoneksi dengan banyak orang tanpa membawa keinginan hendak mendahulukan kepentingan sendiri.

Terkait hal itu, setiap orang perlu mengadopsi filosofi tetumbuhan bambu. Bambu merupakan simbol pertumbuhan mental dan spiritual yang mendalam dan mengagumkan.

Kenapa dan bagaimana bambu, simaklah secara cerdas :

  1. Bambu berakar kukuh ke dalam. Kondisi itu bermakna setiap bentuk kebahagiaan yang berakar ke dalam alias selalu bersyukur, pasti jauh lebih kukuh ketimbang kebahagiaan yang berakar ke luar atau hura-hura,
  2. Bambu terus bertumbuh menuju cahaya terang. Itu menunjukkan, sikap mental yang terbuka atau berterus terang,
  3. Ketika sudah meninggi, bambu justru merunduk. Hal ini mengekspresikan sikap mental kerendahan hati. Setiap oran yang bersikap mental rendah hati bukan indikasi kelemahan. Melainkan justru bukti ketinggian budi setiap orang bersangkutan.
  4. Jika bambu dibelah, ternyata bagian dalam batang bambu tak berisi padat alias kosong. Itu bermakna betapa hidup dan kehidupan bambu sangat sederhana, namun amat sangat mendalam.

Setiap orang yang bathinnya telah berkembang, pasti akan cenderung merunduk berendah hati. Apalagi karena telah menyadari betapa tatkala berhasil mengosongkan diri dari egoisme, pada saat itulah dan di sanalah kearifan dan kebijasanaan akan hadir, berkembang dengan bersemarak.

Niat buruk jangan pernah ada, namun mawas diri harus selalu terjaga !

 

B. P. H. TAMBUNAN, salah seorang Ketua Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Aliansi Nasionalis Indonesia (ANINDO).